oleh

Tepis Isu Penjemputan Paksa, Warga Pamolokan Himbau Masyarakat +62 Jangan Terlalu Percaya Dengan Statement Tidak Benar

SUMENEP, detikkota.com – Warga Desa Pamolokan, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, merasa terganggu dengan adanya isu penjemputan paksa oleh petugas medis dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat.

“Terus terang keluarga saya terganggu, soalnya sejak adanya isu tersebut banyak yang telephone nanyak-nanyak terkait kebenarannya. Bahkan Pamekasan, Sampang, Bangkalan sudah beredar mas kabar itu,” kata Imam Bukhari yang merasa terganggu denga adanya isu penjemputan paksa atas istrinya, Jumat (22/5/2020).

Menurutnya, foto yang beredar mengenai ambulance dan petugas dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap bukanlah jemput paksa dari petugas melainkan pendataan untuk dilakukan rapid test bagi pegawai bank.

“Bahkan di caption nya (Foto yang beredar, red) bahwa penjemputan paksa, sebenarnya itu bukan penjemputan paksa melainkan di data untuk dilakukan rapid test bagi orang yang pernah kontak dengan pasien postifi Covid-19,” jelasnya.

Malahan, banyak isu miring yang terjadi di Perumnas Giling, padahal kata dia, pada saat hasil rapid test nya keluar, istrinya (Imam Bukhari) tidak pulang kesana.

“Bahkan, denger-denger informasi di Perumnas Giling bahwa istri saya di jemput paksa, di bawa ke Surabaya, parahnya lagi Pak RT katanya ngusir padahal pada saat hasil rapid test nya keluar dia malah gak pulang kesana tapi tetap di Pamolokan,” katanya.

Maka dari itu, Imam Bukhari berpesan untuk masyarakat Sumenep khusunya warga Perumnas Giling untuk tidak gampang mengeluarkan statemen yang belum pasti kebenarannya.

“Untuk masyarakat +62 jangan terlalu percaya dengan statemant kayak gitu lah, setidaknya dasarnya itu kita tahu seperti apa, rapid test itu apa, soalnya kan ada tahapannya, setidaknya jangan mengeluarkan statement,” katanya.

Namun dia tidak semerta-merta menyalahkan, bisa jadi hal itu kata dia, karena kurangnya sosialisasi dari pemerintah sehingga masyarakat kurang paham rapid test itu apa, penanganannya gimana, isolasi mandiri itu gimana.

“Mungkin dasarnya kurang atau pengetahuan lemah. Sehingga mungkin lebih selektif, kita jangan ngampang terpengaruh atau percaya dengan statemen seperti itu, kalu sudah ada bukti baru ngomong. Ada selentingan gini langsung membeludak, ini menjadi beban mental tersendiri bagi kami,” tandasnya.

Untuk diketahui, rapid test di sini hanyalah sebagai pemeriksaan skrining atau pemeriksaan penyaring, bukan pemeriksaan untuk mendiagnosa infeksi virus Corona atau Covid19.

Tes yang dapat memastikan apakah seseorang positif terinfeksi virus Corona sejauh ini hanyalah pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR). Pemeriksaan ini bisa mendeteksi langsung keberadaan virus Corona, bukan melalui ada tidaknya antibodi terhadap virus ini. (Md)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed