BANYUWANGI, detikkota.com – Bupati Ipuk Fiestiandani menghadiri buka bersama tokoh lintas elemen di Rumah Kebangsaan asuhan jurnalis senior Hakim Said di Karangrejo, Banyuwangi, Kamis (26/2/2026). Kehadiran Ipuk bersama jajaran pemerintah daerah mendapat apresiasi karena dinilai membuka ruang dialog yang egaliter.
Dalam kegiatan tersebut, Ipuk duduk bersama lebih dari seratus tokoh dari berbagai kalangan, mulai agamawan, pejabat, pegiat sosial, pendidik, tokoh perempuan, pers, LSM, hingga budayawan. Sejumlah peserta yang hadir diketahui kerap menyampaikan kritik terhadap kebijakan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Akademisi dan aktivis sosial Herman Sjahthi mengaku bersyukur dapat berdialog langsung dengan kepala daerah. “Saya bersyukur bisa berdialog langsung dengan Bupati seperti ini. Berbagai persoalan yang selama tak terselesaikan bisa didialogkan dengan baik,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal senada disampaikan podcaster Andi Purnama. Ia menilai forum tersebut menghadirkan pertukaran perspektif yang membangun. “Ada pertukaran perspektif dan pemikiran di antara kami yang kemudian melahirkan saling kepahaman. Jadi, tidak lagi hanya satu sisi dalam melihat sebuah peristiwa,” katanya.
Dalam kesempatan itu, KH Achmad Wahyudi yang memberikan tausiyah menyebut keberanian pemimpin dalam menjelaskan dan menyelesaikan persoalan sebagai karakter kepemimpinan yang baik. Ia mencontohkan penjelasan Ipuk terkait isu tambang, infrastruktur jalan, hingga layanan publik sebagai bentuk keterbukaan.
Sementara itu, Hakim Said selaku Ketua Rumah Kebangsaan Banyuwangi menyampaikan bahwa kegiatan tersebut mengusung semangat sinergitas 3KO (Komunikasi, Koordinasi, dan Kolaborasi) sebagai fondasi pembangunan daerah. Forum tersebut juga diharapkan mempererat ukhuwah Ramadan sekaligus mendukung Gerakan Nasional Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).
“Ini waktunya kita tandang bareng untuk mewujudkan Banyuwangi yang asri,” tegasnya.
Menanggapi berbagai kritik, Ipuk menyatakan bahwa kritik merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap pemerintah daerah. “Ketika ada kritik kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, itu adalah bukti kecintaan masyarakat dan kepedulian terhadap pemerintah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Pemkab Banyuwangi membuka ruang pengawasan publik, namun seluruh pihak tetap harus berjalan sesuai aturan. “Kami tidak menghalangi masyarakat untuk memantau pemerintah. Tetapi jangan pula menggoda pemerintah untuk tidak taat pada aturan,” pungkasnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, Kepala Kementerian Agama Choironi Hidayat, Ketua MUI Banyuwangi KH Muhaimin Asymuni, Ketua FKUB Banyuwangi Nur Chozin, budayawan Aekanu Hariyono, serta akademisi dari berbagai perguruan tinggi.
Penulis : Bi
Editor : Bi







