Tradisi Kitiran Sewu di Pasuruan Kembali Digelar, Warga Putar Seribu Kincir Angin Saat Ramadan

Selasa, 10 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga Dusun Pronojiwo, Desa Blarang, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan menyiapkan kincir angin bambu dalam tradisi Kitiran Sewu yang digelar sebagai permainan tradisional sekaligus upaya melestarikan budaya lokal.

Warga Dusun Pronojiwo, Desa Blarang, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan menyiapkan kincir angin bambu dalam tradisi Kitiran Sewu yang digelar sebagai permainan tradisional sekaligus upaya melestarikan budaya lokal.

PASURUAN, detikkota.com – Tradisi Kitiran Sewu kembali digelar oleh warga Dusun Pronojiwo, Desa Blarang, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Tradisi ini menampilkan ratusan hingga seribu kincir angin yang terbuat dari bambu atau kayu waru gunung yang dipasang dan dibiarkan berputar mengikuti hembusan angin.

Permainan tradisional tersebut telah menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat yang diwariskan secara turun-temurun. Warga meyakini bahwa permainan ini memiliki makna filosofis sekaligus menjadi cara unik untuk merespons kondisi alam ketika angin bertiup kencang.

Kepala Desa Blarang, Darwanto, mengatakan tradisi Kitiran Sewu sudah dikenal masyarakat sejak puluhan tahun lalu. Meski tidak diketahui secara pasti kapan dimulai, permainan tersebut diperkirakan sudah ada sejak sekitar tahun 1980-an.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sekitar tahun 1980 sudah mulai ada kitiran sewu ini. Jadi sejak saya kecil tradisi ini memang sudah ada,” kata Darwanto, Selasa (10/3/2026).

Ia menjelaskan, saat ini tradisi tersebut tidak hanya dimainkan sebagai permainan biasa, tetapi juga dikemas seperti festival budaya yang melibatkan banyak warga. Mereka bersama-sama membuat kincir angin mulai dari memilih bahan kayu hingga merakitnya menjadi kitiran yang siap dipasang.

Menurut Darwanto, kegiatan ini juga menjadi cara warga mengisi waktu menjelang berbuka puasa selama Ramadan sekaligus mempererat kebersamaan di tengah masyarakat.

“Selain untuk mengisi waktu menunggu berbuka puasa, kegiatan ini juga memperkuat tali persaudaraan antarwarga,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu warga setempat, Wahyudi, mengatakan masyarakat bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dusun Pronojiwo berkomitmen untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi tersebut.

Ia menilai Kitiran Sewu memiliki nilai budaya dan filosofi yang penting bagi masyarakat sehingga perlu terus dipertahankan.

“Tradisi ini harus terus dijaga karena memiliki makna dan filosofi yang mendalam. Kami akan terus melestarikannya,” kata Wahyudi.

Penulis : EA

Editor : M/Red

Berita Terkait

Semarak HUT RI ke-81, Pemdes Cigelam Ngaronjat Terus Meriahkan Perayaan
Kebanggaan Ayah dan Bunda, Ratu Aprilia Santika Dewi Raih Juara Pinilih PARAS SMAN 1 Purwakarta
Pemkab Purwakarta Terus Benahi Taman Kota, Perkuat Fasilitas dan Keindahan Ruang Publik
Tanamkan Nasionalisme Sejak Dini, Puluhan Rombongan Anak Ikuti Pawai Kemerdekaan di Pragaan
Ujang Kecam Keras Sorotan Anggaran Sekolah Rakyat: Samarang Bukan Penonton, Kami Juga Berhak
Purwakarta Bergemuruh, Karnaval Mobil Hias Semarakkan Hari Kemerdekaan
HUT ke-81 RI, DPD PAN Sumenep Gelar Upacara Kemerdekaan
Salawat Nabi dan Indonesia Raya Menggema di Taneyan Lanjang Pocang Temor

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 21:32 WIB

Semarak HUT RI ke-81, Pemdes Cigelam Ngaronjat Terus Meriahkan Perayaan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Kebanggaan Ayah dan Bunda, Ratu Aprilia Santika Dewi Raih Juara Pinilih PARAS SMAN 1 Purwakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 - 20:20 WIB

Pemkab Purwakarta Terus Benahi Taman Kota, Perkuat Fasilitas dan Keindahan Ruang Publik

Kamis, 20 Agustus 2026 - 12:44 WIB

Tanamkan Nasionalisme Sejak Dini, Puluhan Rombongan Anak Ikuti Pawai Kemerdekaan di Pragaan

Selasa, 18 Agustus 2026 - 13:03 WIB

Ujang Kecam Keras Sorotan Anggaran Sekolah Rakyat: Samarang Bukan Penonton, Kami Juga Berhak

Berita Terbaru