BANYUWANGI, detikkota.com – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, mengapresiasi inovasi pelayanan kesehatan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sejumlah program yang mendapat perhatian meliputi layanan Jemput Bola Rawat Warga (Jempol Raga), konsep Mal Orang Sehat, hingga pemanfaatan dashboard kesehatan real time di setiap puskesmas.
Apresiasi tersebut disampaikan Benjamin saat melakukan kunjungan kerja ke Banyuwangi pada 24–25 Oktober 2026. Dalam kunjungan itu, ia meninjau pelayanan di Puskesmas Kabat serta memimpin apel kesiapan program Jempol Raga di Taman Blambangan, Minggu (25/10/2026).
Benjamin menilai, inovasi pelayanan kesehatan di Banyuwangi menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan tingkat pertama tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga mengutamakan pencegahan penyakit dan deteksi dini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu inovasi yang menarik perhatiannya adalah dashboard Simpus Wangi di Puskesmas Kabat. Sistem tersebut menyajikan data kunjungan masyarakat secara real time, termasuk jumlah pasien yang sakit maupun warga sehat yang datang untuk pemeriksaan kesehatan.
Dashboard itu juga digunakan untuk memantau capaian program Cek Kesehatan Gratis (CKG) berdasarkan kelompok usia, sehingga pemerintah dapat memetakan kebutuhan pelayanan kesehatan secara lebih terukur.
“Super bagus. Saya sudah keliling Indonesia. Baru di sini yang punya dashboard kesehatan real time di setiap puskesmas,” ujar Benjamin.
Menurutnya, tingginya kunjungan warga sehat menunjukkan bahwa pendekatan promotif dan preventif di Banyuwangi telah berjalan. Puskesmas tidak hanya menjadi tempat berobat, tetapi juga menjadi pusat pemeriksaan rutin dan pencegahan penyakit.
Ia juga menilai konsep Mal Orang Sehat yang dikembangkan Banyuwangi sejak 2018 sejalan dengan program prioritas Presiden, yakni Cek Kesehatan Gratis. Melalui konsep tersebut, masyarakat didorong memeriksakan kondisi kesehatan sebelum mengalami gangguan serius.
“Program prioritas Presiden, Cek Kesehatan Gratis, baru mulai tahun lalu. Ternyata di Banyuwangi sudah dimulai sejak 2018,” katanya.
Selain layanan berbasis puskesmas, Benjamin memberikan perhatian terhadap program Jempol Raga yang memungkinkan petugas kesehatan mendatangi rumah warga untuk memberikan pemeriksaan dan pelayanan medis.
Program tersebut menyasar masyarakat yang mengalami keterbatasan akses layanan kesehatan, terutama lansia, penyandang disabilitas, warga kurang mampu, serta pasien dengan penyakit menahun atau keterbatasan mobilitas.
“Saya sudah keliling ke 29 provinsi dan lebih 150 kabupaten kota se-Indonesia. Ini (layanan home care oleh puskesmas) baru pertama kali saya lihat di Banyuwangi,” ungkapnya.
Benjamin berharap berbagai inovasi tersebut dapat menjadi referensi bagi daerah lain dalam memperkuat pelayanan kesehatan primer, memperluas akses masyarakat, serta meningkatkan upaya pencegahan penyakit.
Ia turut mengapresiasi capaian program CKG di Banyuwangi yang telah menjangkau 779.635 warga.
“Kenapa Kabupaten Banyuwangi punya CKG tinggi dan bagus? Karena sudah terbiasa menolong warga,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan apresiasi dari Wamenkes menjadi dorongan bagi pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
“Kita sangat bersyukur apa yang dilakukan di Banyuwangi diapresiasi oleh Wamenkes. Ini akan menjadi pemacu kita untuk terus mengembangkan layanan yang baik,” kata Ipuk, Selasa (27/10/2026).
Ipuk menjelaskan, Pemkab Banyuwangi terus memperkuat pelayanan kesehatan yang mengedepankan pencegahan sekaligus memastikan masyarakat yang membutuhkan pengobatan memperoleh layanan memadai.
Melalui Mal Orang Sehat, masyarakat dapat memanfaatkan puskesmas untuk pemeriksaan rutin, konsultasi gizi, pengecekan tekanan darah dan gula darah, pengukuran berat serta tinggi badan, hingga memperoleh edukasi mengenai pola hidup sehat.
Adapun melalui Jempol Raga, petugas kesehatan melakukan kunjungan langsung ke rumah warga, termasuk ke wilayah pelosok, guna menjangkau kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.
“Setidaknya dalam lima tahun terakhir ada 50 ribu kunjungan rutin petugas ke rumah hingga ke pelosok-pelosok, terutama bagi warga kurang mampu dan lansia,” tutur Ipuk.
Penulis : Bi
Editor : Id








