PURWAKARTA, detikkota.com – Riwayat Sejarah keberadaan Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat tidak lepas dari para perintis yang telah memulai segala sesuatunya dari awal.
Dalam literasi sejarah Purwakarta, nama Dalem Sholawat atau Raden Adipati Aria Soeriawinata, Bupati Karawang di era kolonial (1828-1849) tercatat sebagai sosok sentral dibalik kelahiran nama PURWAKARTA yang kemudian dijadikan landasan peringatan Hari Jadi Purwakarta pada setiap tanggal 20 Juli, berdasarkan catatan Surat Keputusan / Besluit pemerintah kolonial Belanda tertanggal 20 Juli 1831 no. 2, yaitu tentang pengukuhan nama Purwakarta.
Namun keberadaaan Dalem Sholawat, di Purwakarta, yang saat itu berstatus sebagai ibukota kabupaten Karawang, tak lepas dari peranan kakak kandungnya, yaitu Dalem Santri atau Raden Adipati Aria Soerianata, Bupati Karawang di era kolonial (1820 -1827) yang terlebih dahulu memimpin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika, di tahun 1821, Dalem Santri tidak memindahkan Ibukota Kabupaten Karawang yang semula berpusat di Bunut Kertajaya (wilayah di Kabupaten Karawang saat ini) ke Wanayasa (wilayah di Kabupaten Purwakarta saat ini) maka tentunya cikal bakal berdirinya PURWAKARTA, sebagai entitas baru, tidak akan pernah terjadi.
Seperti halnya Dalem Sholawat yang merupakan nama julukan pemberian dari masyarakat pada saat itu, karena beliau rajin bersholawat dalam situasi apa pun, begitu pun Raden Adipati Aria Soerianata, beliau dijuluki DALEM SANTRI oleh masyarakat, karena kealimannya dalam beribadah.
Baik Dalem Santri maupun Dalem Sholawat keduanya memang dididik secara agamis sejak kecil.
Kakek mereka, Raden Muhammad Thohir merupakan tokoh ulama besar / aulia di Bogor.
Bupati pada masa itu memang tidak hanya berperan sebagai Umaro (Pemimpin) namun juga sebagai Ulama. Dalam filosofi Sunda/Jawa : “Bibit, Bebet, Bobot” atau garis keturunan menjadi faktor penting untuk sebuah jabatan publik, karena seorang pemimpin harus mampu menguasai segala hal, terutama cakap atau mumpuni dalam ilmu pemerintahan dan ilmu keagamaan.
Dalem Santri dan Dalem Sholawat, keduanya merupakan keturunan dari Trah Pajajaran yang berpusat di Bogor dan tersambung nasabnya ke Prabu Siliwangi Sri Baduga Maharaja melalui pihak sang kakek, Rd. Muhammad Thohir.
Sementara dari pihak sang nenek, Ratu Syarifah, berasal dari Trah Kesultanan Banten. Beliau cucu dari Sultan Ageng Tirtayasa penerus Raja Banten yang pertama, yaitu Sultan Maulana Hasanudin, putra dari Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.
Dalem Santri memerintah di Wanayasa sekitar 6 tahun. Tentunya banyak jasa beliau di wilayah tersebut, salah satu peninggalannya adalah Mata Air Cibulakan, yang hingga saat ini masih berfungsi sebagai sarana pengairan, yang terletak di desa Babakan, Wanayasa, dan berjarak cukup dekat dengan makam beliau.
Pasca wafatnya Dalem Santri, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Dalem Sholawat, adik kandungnya, sosok yang memindahkan ibukota Karawang dari Wanayasa ke wilayah Sindang Kasih pada tahun 1830, yang setahun kemudian bernama Purwakarta.
Terbaru, dalam sebuah Napak Tilas Kesejarahan, Wadah Silaturahmi Lintas Elemen Masyarakat, BELA PURWAKARTA, membersamai generasi ke- 7 dari Dalem Santri, yaitu Rd. Boyke Pranata Soerianata, yang baru tiba dari Amerika Serikat, tempatnya berkarir selama hampir 30 tahun.
Boyke, merupakan satu satunya Master Technician dari wilayah Asia Tenggara, yang berkiprah di Harley Davidson Company, di Sacramento, California.
Pada momentum “Pulang Kampung” kali ini, Boyke tidak hanya menziarahi makam leluhurnya, tetapi juga berencana akan menggelar Haul Dalem Santri di Wanayasa.
Founder BELA PURWAKARTA, Aa Komara, menyambut baik rencana tersebut.
Dalam sebuah forum silaturahmi bersama Boyke Soerianata yang ditindaklanjuti dengan kegiatan berziarah bersama ke makam Dalem Santri di Wanayasa tersebut, turut serta sejumlah tokoh di antaranya : Kabag Protokol Pemda Purwakarta, Hilman Nugraha, yang notabene sepupu dari Boyke Soerianata, Camat Wanayasa, Heru Agus Riyanto, Kasi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Kecamatan Wanayasa, Gunawan Adriana, Kepala Desa Wanayasa, Makmur Hidayat, Wakil Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Wanayasa, Rina Sri Nurbaeti dan Kepala Desa Babakan, Endin Sopyudin (Ebet).
Sementara dari BELA PURWAKARTA (BELPUR), turut serta Ali Novel Magad, Humas Komite Sepeda Indonesia (KSI) Kab. Purwakarta, Sahril Sidik (Boriel), Humas BELPUR, Asep Richo, Kordinator Paguyuban Warga Banten Purwakarta dan Uu Wijaya, pengurus Komunitas Iket Sunda (KIS ARTA) Kabupaten Purwakarta.
Dalam aktivitas kesejarahan ini, turut serta Duta Pariwisata Jawa Barat sekaligus Duta Batik Persahabatan Jawa Barat 2026, Vera Novia, yang juga Mojang Kabupaten Purwakarta tahun 2024.
“Kehadiran Vera Novia, sebagai bentuk apresiasi mewakili Gen Z terhadap leluhur Purwakarta. Aktivitas ziarah ini sekaligus bentuk edukasi agar kalangan generasi penerus memahami Sejarah Purwakarta secara utuh, terlebih lagi bagi seorang Mojang atau Duta, yang mana harus mampu menginformasikan kepada khalayak luas tentang Purwakarta secara detail, terutama dari aspek historis,” tutur Aa Komara.
Vera Novia turut menegaskan :
“Selain bentuk penghormatan terhadap leluhur, kunjungan ini sangat penting untuk menggali potensi pengembangan wisata religi. Tentunya ketika di masa depan situs keramat Dalem Santri ini menjadi destinasi wisata religi, maka akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal Desa Babakan dan Kecamatan Wanayasa serta Kabupaten Purwakarta pada umumnya, dengan banyaknya peziarah dari lintas kota atau provinsi ke lokasi ini “.
Pernyataan Vera Novia ini diperkuat oleh Kades Babakan, Endin Sopyudin :
“Untuk saat ini saja makam Dalem Santri sudah sering diziarahi oleh masyarakat dari lintas kota di antaranya dari Karawang, Bogor, Bandung bahkan dari Lamongan, Jawa Timur. Bisa saja ke depannya tercipta perpaduan Paket Perjalanan Wisata Religi : Dalem Santri – Syekh Baing Yusuf – Mama Sempur Plered,” ujarnya dengan nada optimis.
Sinergitas dalam pelestarian makam makam para leluhur harus terus terjalin. Pemerintah, pihak keluarga (keturunan sang tokoh) serta masyarakat, diharapkan senantiasa membangun kolaborasi, karena merawat SEJARAH adalah kepentingan bersama.
Penulis : Nal








