Hampir 80 Persen Paket MBG di SDN Tanjungjaya Diduga Basi, Tokoh Masyarakat Desak Evaluasi SPPG

Jumat, 30 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUBANG, detikkota.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Tanjungjaya, Desa Gandasari, Kecamatan Cikaum, Kabupaten Subang, menuai sorotan setelah sejumlah paket makanan yang dibagikan kepada siswa diduga dalam kondisi tidak layak konsumsi atau basi, Jumat (30/1/2026).

Temuan tersebut mencuat saat proses distribusi makanan berlangsung di sekolah penerima manfaat. Sejumlah siswa diketahui tidak menghabiskan makanan yang dibagikan karena diduga sudah basi.

Menanggapi laporan tersebut, Ujang Riswara, wali murid sekaligus tokoh masyarakat Desa Gandasari, langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan. Dari hasil peninjauan di lapangan, ia memperkirakan sekitar 80 persen paket makanan yang disalurkan dalam kondisi tidak layak konsumsi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ujang menyayangkan temuan tersebut, mengingat Program MBG merupakan program nasional yang bertujuan meningkatkan gizi dan kesehatan anak-anak sekolah.

“Program ini sangat baik dan digagas untuk memenuhi gizi anak bangsa. Namun sangat disayangkan masih ada penyedia dapur (SPPG) yang mengabaikan kualitas makanan hingga banyak yang tidak dikonsumsi karena nasi sudah basi,” ujar Ujang.

Ia menilai, kondisi tersebut tidak hanya merugikan penerima manfaat, tetapi juga berpotensi merugikan keuangan negara karena anggaran yang digunakan cukup besar.

“Ini uang negara yang seharusnya dimanfaatkan untuk menyehatkan anak-anak, tetapi hari ini justru ditemukan makanan yang tidak layak konsumsi. Kami minta agar ada evaluasi terhadap SPPG, khususnya di wilayah Kabupaten Subang,” tegasnya.

Selain kualitas makanan, Ujang juga menyoroti jarak distribusi antara dapur penyedia dan sekolah penerima manfaat yang dinilai terlalu jauh. Menurutnya, jarak tempuh yang mencapai sekitar 9 hingga 10 kilometer berpotensi menyebabkan makanan menjadi basi sebelum sampai ke sekolah.

“Radius atau zona suplai dapur ke sekolah harus ditertibkan dan disesuaikan dengan regulasi. Jangan sampai jarak yang terlalu jauh justru berdampak pada kualitas makanan yang diterima siswa,” katanya.

Ia berharap temuan tersebut segera ditindaklanjuti oleh dinas terkait maupun Badan Gizi Nasional (BGN), agar kejadian serupa tidak terulang kembali di sekolah lain, khususnya di wilayah Kecamatan Cikaum.

“Kami berharap ada pengawasan dan evaluasi serius supaya kejadian seperti ini tidak terulang dan benar-benar menjamin kualitas makanan bagi anak-anak,” pungkasnya.

Penulis : DR/DJ

Editor : M/Red

Berita Terkait

Sulaisi Siap Pimpin Aksi di Polresta Sumenep, Desak Kejelasan Penahanan Tersangka Lisdes
Polres Tanjung Perak Gagalkan Peredaran Sabu 95,44 Gram, Pemasok Diburu
Program Gentengisasi Merah Putih Direalisasikan, 500 Ribu Genteng dari Plered Dikirim Menggunakan 125 Truk
Nakhoda KM Virgo Transport 8 Jadi Tersangka, Ditpolair Korpolairud Lakukan Penahanan
Satpol PP Surabaya Segel Toko Mihol di Wonokromo, 10 Botol Diamankan
Triwulan III 2026, Polda Jatim Ungkap 1.870 Kasus Narkoba
Tol Prosiwangi Gending–Paiton Dibuka Gratis Mulai 30 September, Berlaku 14 Hari
Buruh KASBI Demo di DPRD Jatim, Desak UU Perlindungan Ketenagakerjaan Segera Disahkan

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:24 WIB

Sulaisi Siap Pimpin Aksi di Polresta Sumenep, Desak Kejelasan Penahanan Tersangka Lisdes

Jumat, 9 Oktober 2026 - 12:00 WIB

Polres Tanjung Perak Gagalkan Peredaran Sabu 95,44 Gram, Pemasok Diburu

Jumat, 2 Oktober 2026 - 15:25 WIB

Program Gentengisasi Merah Putih Direalisasikan, 500 Ribu Genteng dari Plered Dikirim Menggunakan 125 Truk

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:52 WIB

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Jadi Tersangka, Ditpolair Korpolairud Lakukan Penahanan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:37 WIB

Satpol PP Surabaya Segel Toko Mihol di Wonokromo, 10 Botol Diamankan

Berita Terbaru