SUMENEP, detikkota.com — Kalau lewat Kampong Pocang Temor awal Agustus ini, rasanya langsung ketemu agustusan. Bukan karena banner dari pemerintah, tapi karena pemudanya yang turun tangan.
Di gerbang utama bertuliskan “Kampong Pocang Temor”, dua Bendera Merah Putih sudah berkibar sejak 1 Agustus. Di tengahnya ada Garuda. Di bawahnya terbentang spanduk besar HUT Ke-81 RI: “Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur”. Sederhana, tapi bikin yang lewat langsung paham: di kampung sebelah utara balai desa ini peringatan kemerdekaan dimulai lebih awal.
Yang menggerakkan semua ini Pemuda Pocang Temor (PPT). Sama seperti tahun-tahun lalu, mereka lagi-lagi memilih merayakan 17-an dengan cara mereka: gotong royong, swadaya, dan sedikit pelajaran sejarah diselipkan di sela lomba.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami mau Agustusan ada rasa bareng-barengnya. Tema nasional kita bawa pulang ke kampong,” ujar Busaki, salah seorang penggerak PPT, Senin (3/8).
*Jalan Penuh Umbul-umbul, Dana Patungan*
Langkah pertama PPT tahun ini: menghias jalan. Ratusan umbul-umbul merah putih dipasang berjejer dari pintu masuk kampung sampai ke pemukiman. Ada yang masuk wilayah Desa Cangkreng, ada juga yang masuk Desa Meddelan.
Pemasangan umbul-umbul itu sengaja dirapatkan. Tujuannya biar kalau kena angin, warnanya kelihatan melambai-lambai menyambut tamu.
“Dana dari patungan warga. Tenaganya swadaya. Ada yang nyari bambu, ada yang jahit, ada yang ngikat,” kata Busaki sambil menunjuk deretan umbul-umbul yang sudah rapi.
*Malamnya Kumpul di Taneyan Lanjang*
Kalau siang dihias jalan, malamnya giliran taneyan lanjang yang disulap. Ini halaman panjang khas Madura yang jadi ruang utama warga Pocang Temor buat kumpul dan anak-anak main.
Kaum ibu di sini paling semangat. Mereka pasang lampu hias dan bendera warna merah putih. Begitu malam, taneyan langsung hidup.
“Taneyan itu jantungnya kampung. Kalau di sini ramai, berarti kampungnya juga ramai,” ucap Busaki.
*Gelar Aneka Lomba dan Kuis Sejarah*
Puncaknya nanti ada lomba. PPT menyiapkan yang klasik: balap kelereng, nyunggi tampah, dan permainan tradisional lain.
“Anak-anak harus tahu juga kenapa kita lomba. Jadi kami selipkan kuis tentang proklamasi dan pahlawan,” jelas Luqman Hakim, warga Pocang Temor.
Acara akan ditutup dengan doa bersama dan pembagian hadiah di taneyan lanjang. Doanya untuk para pahlawan, keselamatan bangsa, dan keberkahan warga. Setelah itu baru pembagian hadiah dan duduk bareng.
Bagi warga, agustusan tahun ini beda. Dekorasinya lebih ramai, tapi yang paling kerasa adalah semua dikerjakan sendiri oleh anak muda kampung.
“Harapan kami sederhana saja. 81 tahun merdeka, di kampung kecil ini Merah Putih tetap hidup. Hidup di gerbang, di jalan, di lampu, dan di hati kami,” tegas Hakim.
Di Pocang Temor, semangat “berdaulat” dari tema nasional tahun ini diartikan secara nyata: mengurus kampung sendiri, dengan semangat gotong royong.
Penulis : Bus
Editor : Red







