Setiap kali Ramadan datang, satu pemandangan yang hampir selalu berulang adalah maraknya kegiatan santunan anak yatim. Spanduk bertuliskan “Santunan Anak Yatim” terpampang di mana-mana. Masjid, komunitas, instansi, bahkan kelompok kecil masyarakat berlomba-lomba menggelar acara serupa.
Anak-anak dikumpulkan, duduk berjajar, dipanggil satu per satu ke depan, menerima amplop atau bingkisan, lalu diakhiri dengan foto bersama. Setelah itu, dokumentasi menyebar di media sosial sebagai bukti bahwa sebuah kegiatan amal telah terlaksana.
Sekilas semua tampak indah. Penuh kepedulian dan kebaikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun jarang ada yang benar-benar bertanya: bagaimana perasaan anak-anak itu?
Bagi orang dewasa, santunan mungkin terlihat sebagai kebahagiaan. Tapi bagi sebagian anak yatim, momen itu juga bisa menjadi pengingat yang tidak mudah: bahwa mereka berbeda dari anak-anak lainnya. Bahwa ada sosok ayah yang tidak lagi bisa mereka temui.
Tanpa kita sadari, acara santunan sering kali menempatkan mereka dalam sebuah panggung—panggung amal yang ramai, tetapi hanya berlangsung sebentar.
Padahal anak-anak itu tidak pernah meminta untuk disebut sebagai “anak yatim” di depan banyak orang. Mereka juga tidak pernah meminta kehilangan ayah mereka. Mereka hanya ingin hidup seperti anak-anak lainnya, bermain, belajar, dan tumbuh tanpa harus terus diingatkan pada luka yang sama.
Santunan tentu bukan sesuatu yang salah. Memberi kepada mereka yang membutuhkan adalah bagian dari ajaran Islam yang sangat mulia. Bahkan memuliakan anak yatim memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam nilai-nilai kemanusiaan dan agama.
Tetapi persoalannya bukan pada memberi, melainkan pada cara kita memberi.
Ketika santunan berubah menjadi kegiatan seremonial tahunan, ketika dokumentasi lebih penting daripada perasaan anak-anak yang menerima, di situlah kita perlu berhenti sejenak untuk merenung.
Apakah kita benar-benar sedang membantu mereka? Ataukah kita sekadar sedang menenangkan hati kita sendiri?
Karena sejatinya, kebutuhan terbesar anak yatim bukanlah amplop santunan. Yang paling mereka rindukan adalah sosok ayah yang membimbing, melindungi, dan menyayangi mereka. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh bantuan materi.
Itulah sebabnya memuliakan anak yatim tidak cukup hanya dilakukan sekali dalam setahun, apalagi hanya pada bulan Ramadan. Kepedulian seharusnya hadir sepanjang waktu: memastikan mereka tetap bisa sekolah, memiliki lingkungan yang mendukung, dan tumbuh dengan rasa percaya diri seperti anak-anak lainnya.
Ramadan seharusnya mengajarkan kita untuk berbagi dengan hati yang lebih dalam, bukan sekadar berbagi dalam bentuk acara.
Sebab bagi seorang anak yatim, santunan mungkin hanya bertahan beberapa hari. Tetapi cara kita memperlakukan mereka bisa meninggalkan kesan seumur hidup.
Dan mungkin, yang paling mereka butuhkan bukanlah panggung santunan, melainkan kehadiran masyarakat yang benar-benar memanusiakan mereka.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi







