Dana BUMDes Rp200 Juta Desa Saur Saebus Dipertanyakan, Pengurus Diminta Transparan

Selasa, 3 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: Ilustrasi)

(Foto: Ilustrasi)

SUMENEP, detikkota.com – Pengelolaan anggaran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Saur Saebus, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, senilai lebih dari Rp200 juta menuai sorotan. Dana yang dialokasikan melalui APBDes Tahun Anggaran 2025 itu dipertanyakan sejumlah aktivis kepulauan karena dinilai belum memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Seorang aktivis kepulauan menyatakan pihaknya telah menyampaikan permintaan klarifikasi kepada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Sumenep melalui audiensi beberapa waktu lalu.

“Pengurus BUMDes Desa Saur Saebus harus bertanggung jawab terkait aliran dana tersebut. Karena itu anggaran bersumber dari pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menduga pengelolaan dana BUMDes tidak berjalan sesuai ketentuan, lantaran manfaatnya belum dirasakan secara merata, khususnya oleh petani yang disebut sebagai sasaran program.

“Mestinya para petani yang menerima manfaatnya. Tapi realitanya sampai akhir tahun para petani belum merasakan manfaatnya secara merata,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua BUMDes Desa Saur Saebus, Moh. Ramlah, membantah tudingan tersebut. Ia menegaskan seluruh dana dikelola oleh BUMDes dan difokuskan untuk kegiatan pertanian di wilayah Saur Saebus.

“Semua dana dikelola oleh BUMDes sendiri untuk pekerjaan yang melibatkan petani. Fokus pekerjaan kami di Saur,” ujarnya.

Menurutnya, tidak semua petani dilibatkan dalam pekerjaan karena keterbatasan kebutuhan tenaga kerja. Ia juga mempersilakan pihak yang meragukan untuk mengecek langsung lokasi kegiatan.

“Kalau bisa datang langsung ke Saur, cek lokasi pekerjaan dan tanyakan petani yang ikut bekerja. Memang tidak semua petani dilibatkan,” katanya.

Ia menambahkan, kegiatan inti BUMDes dimulai sejak September 2025 dan seluruh aktivitas disebut memiliki dokumentasi lengkap. Hingga saat ini, pekerjaan masih berlangsung sampai masa panen.

Meski demikian, desakan transparansi dan pertanggungjawaban penggunaan dana tetap mengemuka. Aktivis meminta pemerintah desa dan pengurus BUMDes membuka laporan penggunaan anggaran secara rinci agar tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

Penulis : M

Editor : M

Berita Terkait

Krisis Air Bersih Empat Bulan, Warga Langsar Sumenep Dapat Bantuan
Cuaca Sumenep Berubah Cepat, BMKG Ingatkan Warga dan Nelayan Waspada
Kades Nuryadi “Abah Haji” Buktikan Pembangunan Lumbung Desa, Petani Kini Punya Tempat Penyimpanan Hasil Panen
Tiga Bulan Masuk DPO, Keberadaan Guru ASN di Sumenep Belum Terungkap
ATEP HERU TIADA, BELPUR BERDUKA
GPN Jatim dan DLH Sumenep Investigasi Dugaan Limbah Tambak Udang di Pesisir Ambunten
Wali Kota Eri Datangi Penyalur ART di Gunung Anyar, Pekerja Terjerat Denda Rp3,5 Juta Dipulangkan
Hari Tani Nasional 2026, Bupati Probolinggo Soroti Pupuk dan Harga Komoditas

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 17:21 WIB

Krisis Air Bersih Empat Bulan, Warga Langsar Sumenep Dapat Bantuan

Senin, 5 Oktober 2026 - 10:24 WIB

Kades Nuryadi “Abah Haji” Buktikan Pembangunan Lumbung Desa, Petani Kini Punya Tempat Penyimpanan Hasil Panen

Minggu, 4 Oktober 2026 - 22:57 WIB

Tiga Bulan Masuk DPO, Keberadaan Guru ASN di Sumenep Belum Terungkap

Selasa, 29 September 2026 - 16:38 WIB

ATEP HERU TIADA, BELPUR BERDUKA

Selasa, 29 September 2026 - 16:35 WIB

GPN Jatim dan DLH Sumenep Investigasi Dugaan Limbah Tambak Udang di Pesisir Ambunten

Berita Terbaru