Ramadan dan “Panggung Santunan” Anak Yatim

Rabu, 11 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Setiap kali Ramadan datang, satu pemandangan yang hampir selalu berulang adalah maraknya kegiatan santunan anak yatim. Spanduk bertuliskan “Santunan Anak Yatim” terpampang di mana-mana. Masjid, komunitas, instansi, bahkan kelompok kecil masyarakat berlomba-lomba menggelar acara serupa.

Anak-anak dikumpulkan, duduk berjajar, dipanggil satu per satu ke depan, menerima amplop atau bingkisan, lalu diakhiri dengan foto bersama. Setelah itu, dokumentasi menyebar di media sosial sebagai bukti bahwa sebuah kegiatan amal telah terlaksana.

Sekilas semua tampak indah. Penuh kepedulian dan kebaikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun jarang ada yang benar-benar bertanya: bagaimana perasaan anak-anak itu?

Bagi orang dewasa, santunan mungkin terlihat sebagai kebahagiaan. Tapi bagi sebagian anak yatim, momen itu juga bisa menjadi pengingat yang tidak mudah: bahwa mereka berbeda dari anak-anak lainnya. Bahwa ada sosok ayah yang tidak lagi bisa mereka temui.

Tanpa kita sadari, acara santunan sering kali menempatkan mereka dalam sebuah panggung—panggung amal yang ramai, tetapi hanya berlangsung sebentar.

Padahal anak-anak itu tidak pernah meminta untuk disebut sebagai “anak yatim” di depan banyak orang. Mereka juga tidak pernah meminta kehilangan ayah mereka. Mereka hanya ingin hidup seperti anak-anak lainnya, bermain, belajar, dan tumbuh tanpa harus terus diingatkan pada luka yang sama.

Santunan tentu bukan sesuatu yang salah. Memberi kepada mereka yang membutuhkan adalah bagian dari ajaran Islam yang sangat mulia. Bahkan memuliakan anak yatim memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam nilai-nilai kemanusiaan dan agama.

Tetapi persoalannya bukan pada memberi, melainkan pada cara kita memberi.

Ketika santunan berubah menjadi kegiatan seremonial tahunan, ketika dokumentasi lebih penting daripada perasaan anak-anak yang menerima, di situlah kita perlu berhenti sejenak untuk merenung.

Apakah kita benar-benar sedang membantu mereka? Ataukah kita sekadar sedang menenangkan hati kita sendiri?

Karena sejatinya, kebutuhan terbesar anak yatim bukanlah amplop santunan. Yang paling mereka rindukan adalah sosok ayah yang membimbing, melindungi, dan menyayangi mereka. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh bantuan materi.

Itulah sebabnya memuliakan anak yatim tidak cukup hanya dilakukan sekali dalam setahun, apalagi hanya pada bulan Ramadan. Kepedulian seharusnya hadir sepanjang waktu: memastikan mereka tetap bisa sekolah, memiliki lingkungan yang mendukung, dan tumbuh dengan rasa percaya diri seperti anak-anak lainnya.

Ramadan seharusnya mengajarkan kita untuk berbagi dengan hati yang lebih dalam, bukan sekadar berbagi dalam bentuk acara.

Sebab bagi seorang anak yatim, santunan mungkin hanya bertahan beberapa hari. Tetapi cara kita memperlakukan mereka bisa meninggalkan kesan seumur hidup.

Dan mungkin, yang paling mereka butuhkan bukanlah panggung santunan, melainkan kehadiran masyarakat yang benar-benar memanusiakan mereka.

Penulis : Redaksi

Editor : Redaksi

Berita Terkait

UMKM: Jalan Sunyi Pengentasan Kemiskinan di Sumenep
Satu Kongres, Banyak Ketua—Mana yang Ketua Beneran?
Mengapa Muharram Disebut Bulan Mulia? Ini 20 Alasannya!
Terjebak Banjir dan Terjerembab ke Jurang: Catatan Liputan dari Patean
Ketika Silaturahmi Organisasi Hanya Sebatas Chat: Sebuah Catatan Kritis
Dokter Spesialis RSUD dr Moh Anwar Sumenep Bagikan Tips untuk Kesehatan Kulit
Ilmuan Asal Jepang membuktikan bahwa puasa tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan
Calon Bupati Yang Takut “Ditelikung Wakil”, Memiliki Peluang Akan Berkuasa Dengan Otoriter

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 10:02 WIB

Ramadan dan “Panggung Santunan” Anak Yatim

Senin, 15 September 2025 - 12:11 WIB

UMKM: Jalan Sunyi Pengentasan Kemiskinan di Sumenep

Rabu, 30 Juli 2025 - 18:04 WIB

Satu Kongres, Banyak Ketua—Mana yang Ketua Beneran?

Kamis, 3 Juli 2025 - 10:55 WIB

Mengapa Muharram Disebut Bulan Mulia? Ini 20 Alasannya!

Jumat, 23 Mei 2025 - 10:24 WIB

Terjebak Banjir dan Terjerembab ke Jurang: Catatan Liputan dari Patean

Berita Terbaru

Opini

Ramadan dan “Panggung Santunan” Anak Yatim

Rabu, 11 Mar 2026 - 10:02 WIB