JAKARTA, detikkota.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Rabu (15/4/2026), ditutup turun 0,03 persen atau 5 poin ke level Rp17.135 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan arus modal keluar (capital outflow) yang masih berlangsung, meskipun sentimen global menunjukkan perbaikan. Kondisi ini mencerminkan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik belum sepenuhnya mereda.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa rupiah masih berada dalam tekanan meski indeks dolar AS sedang berada di level terendah dalam enam pekan terakhir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp17.100 hingga Rp17.200 per dolar AS, dengan potensi volatilitas yang masih cukup tinggi,” ujarnya.
Pelemahan rupiah juga sejalan dengan tren depresiasi mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS. Mata uang seperti yen Jepang, yuan China, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong tercatat mengalami penurunan, sementara peso Filipina mencatat pelemahan terdalam.
Di sisi lain, sentimen global yang membaik, termasuk harapan meredanya konflik di Timur Tengah, belum mampu memberikan dorongan signifikan terhadap penguatan rupiah. Pelaku pasar menilai tekanan lebih banyak berasal dari faktor domestik, termasuk persepsi investor terhadap prospek ekonomi nasional.
Aliran dana asing yang terus keluar dari pasar keuangan domestik menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Untuk perdagangan Kamis (16/4/2026), rupiah diperkirakan masih bergerak dalam tren melemah, seiring minimnya rilis data ekonomi penting dan pelaku pasar yang cenderung menunggu arah kebijakan moneter Bank Indonesia pada rapat dewan gubernur pekan depan.
Pada perdagangan pagi, rupiah terpantau kembali melemah tipis 1 poin ke level Rp17.144 per dolar AS. Sementara itu, sejumlah mata uang Asia Tenggara lainnya justru mengalami penguatan terhadap dolar AS.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih sangat dipengaruhi oleh dinamika sentimen global dan domestik, serta arah kebijakan otoritas moneter ke depan.
Penulis : Jack
Editor : M/Red







