Rupiah Tembus Rekor Terlemah, Ditutup di Level Rp17.190 per Dolar AS

Sabtu, 18 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rupiah melemah mencapai titik terendah baru di level Rp17.193/US$ pada Jumat (17/4/2026). (Bloomberg)

Rupiah melemah mencapai titik terendah baru di level Rp17.193/US$ pada Jumat (17/4/2026). (Bloomberg)

JAKARTA, detikkota.com – Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan pelemahan signifikan dan menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah pada penutupan perdagangan Jumat (17/4). Rupiah ditutup di level Rp17.190 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah sekitar 0,32 persen dibandingkan posisi sebelumnya.

Data menunjukkan, pada perdagangan hari yang sama, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.193 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan tekanan yang masih kuat terhadap mata uang domestik di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Pergerakan rupiah sejalan dengan tren pelemahan mata uang di kawasan Asia. Sejumlah mata uang tercatat berada di zona merah, di antaranya baht Thailand, won Korea Selatan, peso Filipina, dan yen Jepang. Sementara itu, hanya rupee India yang mampu menguat setelah adanya kebijakan intervensi dari bank sentral setempat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik yang belum menunjukkan tanda berakhir, meningkatkan persepsi risiko di pasar negara berkembang. Kondisi ini turut berdampak pada stabilitas nilai tukar.

Selain itu, harga minyak dunia yang masih tinggi juga menjadi faktor penekan. Setiap kenaikan harga minyak mentah berpotensi memperlebar defisit anggaran negara, sehingga menambah beban fiskal.

Dari dalam negeri, ancaman perlambatan sektor industri juga menjadi perhatian. Sejumlah industri padat karya dilaporkan berpotensi melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat kenaikan biaya produksi yang dipicu oleh mahalnya bahan baku.

Tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi juga berpotensi mendorong kenaikan suku bunga, yang pada akhirnya meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.

Para analis menilai, untuk meredam tekanan terhadap rupiah, pemerintah perlu memperkuat fundamental ekonomi, khususnya dari sisi pendapatan negara. Langkah ini dinilai penting guna menjaga stabilitas fiskal di tengah gejolak ekonomi global yang masih berlangsung.

Penulis : Jack

Editor : Jack

Berita Terkait

Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.135 per Dolar AS, Tertekan Arus Modal Keluar
Bupati Lumajang Tekankan Literasi Keuangan sebagai Fondasi Stabilitas Ekonomi Daerah
Pemkab Sumenep Dorong BPRS Bhakti Sumekar Perkuat Transformasi Digital Berbasis Syariah
BPRS Bhakti Sumekar Gelar Talkshow, Dorong Inklusi dan Literasi Keuangan Syariah
Kapolres Sumenep dan Bhayangkari Tanam Jagung, Dukung Ketahanan Pangan 2026
Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.020 per Dolar AS di Tengah Sentimen Global
Ratusan Peserta Meriahkan Festival Ketupat 2026 di Pantai Lombang
Pemkab Sumenep Dorong Festival Ketupat Jadi Daya Tarik Wisata dan Penggerak Ekonomi

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 07:22 WIB

Rupiah Tembus Rekor Terlemah, Ditutup di Level Rp17.190 per Dolar AS

Kamis, 16 April 2026 - 11:07 WIB

Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.135 per Dolar AS, Tertekan Arus Modal Keluar

Kamis, 16 April 2026 - 10:51 WIB

Bupati Lumajang Tekankan Literasi Keuangan sebagai Fondasi Stabilitas Ekonomi Daerah

Selasa, 14 April 2026 - 15:09 WIB

Pemkab Sumenep Dorong BPRS Bhakti Sumekar Perkuat Transformasi Digital Berbasis Syariah

Selasa, 14 April 2026 - 15:07 WIB

BPRS Bhakti Sumekar Gelar Talkshow, Dorong Inklusi dan Literasi Keuangan Syariah

Berita Terbaru