SUMENEP, detikkota.com – Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Kabupaten Sumenep menunjukkan tren peningkatan secara konsisten dalam lima tahun terakhir. Data periode 2020–2024 mencatat nilai PDRB per kapita terus mengalami kenaikan sebagai indikator tumbuhnya aktivitas ekonomi di daerah.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep, Arif Firmanto, mengatakan tren tersebut menjadi sinyal positif bagi perkembangan perekonomian daerah, meski masih terdapat tantangan untuk mengejar capaian rata-rata Provinsi Jawa Timur maupun nasional.
“Tren kenaikan PDRB per kapita menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah. Tantangan berikutnya adalah mempercepat pertumbuhan sektor-sektor produktif agar kesenjangan dengan Jawa Timur dan nasional dapat terus diperkecil,” kata Arif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan data Bappeda, PDRB per kapita Sumenep pada 2020 tercatat sebesar Rp29,16 juta. Nilai tersebut meningkat menjadi Rp31,17 juta pada 2021, kemudian naik menjadi Rp35,32 juta pada 2022.
Tren positif itu berlanjut pada 2023 dengan capaian Rp37,47 juta dan kembali meningkat menjadi Rp39,21 juta pada 2024.
Menurut Arif, peningkatan tersebut mencerminkan bertambahnya aktivitas ekonomi dan nilai tambah yang dihasilkan berbagai sektor usaha di Kabupaten Sumenep.
Meski demikian, capaian PDRB per kapita Sumenep masih berada di bawah rata-rata Provinsi Jawa Timur yang mencapai Rp75,77 juta dan rata-rata nasional sebesar Rp78,61 juta pada 2024.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh struktur ekonomi Sumenep yang masih didominasi sektor primer, seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan, yang memiliki produktivitas relatif lebih rendah dibanding sektor industri pengolahan maupun jasa.
Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Pemkab Sumenep akan terus mengoptimalkan potensi daerah, terutama di sektor perikanan dan pariwisata kepulauan yang dinilai memiliki peluang besar menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan infrastruktur, modernisasi teknologi di sektor perikanan, pengembangan industri pengolahan hasil pertanian dan kelautan, serta peningkatan promosi destinasi wisata agar mampu menarik lebih banyak kunjungan wisatawan.
Di sisi lain, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian utama melalui penguatan keterampilan dan kompetensi masyarakat agar mampu memanfaatkan peluang ekonomi yang terus berkembang.
Bappeda menilai, optimalisasi potensi lokal yang didukung kebijakan pembangunan yang tepat diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara lebih merata.
Penulis : M
Editor : Red







