SUMENEP, detikkota.com – Program magang mahasiswa Universitas Bahaudin Mudhary (Uniba) Madura di Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Sumenep resmi berakhir.
Bukan sekadar menuntaskan kewajiban akademik, program tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk merasakan langsung dinamika dunia kerja sekaligus memahami peran Bawaslu dalam mengawal proses demokrasi.
Selama menjalani magang, mahasiswa tidak hanya belajar menerapkan teori yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga ditempa melalui pengalaman kerja, kedisiplinan, komunikasi, tanggung jawab, etika, hingga profesionalisme.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Sekretariat Bawaslu Kabupaten Sumenep, Eko Budiharto Utomo, S.H., M.Si., mengapresiasi kehadiran dan kontribusi mahasiswa Uniba Madura selama mengikuti program magang.
Ia menilai pengalaman tersebut dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa sebelum terjun sepenuhnya ke dunia profesional.
“Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada adik-adik mahasiswa Uniba Madura atas pengabdian, kebersamaan, semangat, dan kontribusi yang telah diberikan selama menjalani program magang di Bawaslu Kabupaten Sumenep,” ujar Eko, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, mahasiswa yang mengikuti magang telah menjadi bagian dari aktivitas kelembagaan Bawaslu. Pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti ketika masa magang selesai, tetapi terus dibawa ke lingkungan kampus maupun kehidupan profesional.
Eko menekankan bahwa dunia pendidikan dan dunia kerja memiliki peran yang saling melengkapi. Kampus membangun fondasi keilmuan dan pola pikir, sedangkan pengalaman lapangan mengajarkan mahasiswa bagaimana menerapkan pengetahuan, bekerja dalam tim, mengambil tanggung jawab, serta menghadapi persoalan secara profesional.
“Kampus memberikan ilmu dan cara berpikir, sedangkan pengalaman di dunia kerja mengajarkan bagaimana seseorang bersikap, mengambil tanggung jawab, bekerja sama, dan menyelesaikan tugas. Kami berharap pengalaman selama di Bawaslu ini dapat menjadi bagian dari proses pendewasaan dan pembentukan karakter mahasiswa,” katanya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar menjadikan kritik dan evaluasi sebagai bagian dari proses pembelajaran.
“Teruslah belajar, jangan takut menerima kritik, karena dari evaluasi seseorang dapat mengetahui apa yang harus diperbaiki dan bagaimana menjadi lebih baik,” pesan Eko.
Sementara itu, Dosen Koordinator Magang Uniba Madura, Moh. Sofwan Kastir Al-Aziz, S.E., M.E., menyampaikan apresiasi kepada jajaran Bawaslu Sumenep yang telah membuka ruang pembelajaran bagi mahasiswa.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan magang terdapat sikap, perkataan, maupun tindakan mahasiswa yang kurang berkenan.
“Kami selaku dosen koordinator dan mewakili pihak kampus menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya apabila selama mahasiswa kami menjalani magang terdapat tingkah laku, perkataan, sikap, maupun tindakan yang kurang berkenan,” ujar Sofwan.
Menurutnya, mahasiswa masih berada dalam tahap pembentukan karakter. Karena itu, setiap kritik dan masukan dari instansi tempat magang menjadi bagian penting untuk membantu mahasiswa berkembang.
Sofwan menegaskan, pihak kampus terbuka terhadap seluruh evaluasi yang diberikan Bawaslu Sumenep. Evaluasi tersebut dinilai penting untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam menerapkan ilmu sekaligus menjaga etika dan tanggung jawab di lingkungan kerja.
“Kritik dan evaluasi bukan untuk menjatuhkan, melainkan menjadi bagian dari proses pembelajaran agar mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.
Ia juga memastikan pihak kampus akan menghormati hasil penilaian Bawaslu Sumenep terhadap mahasiswa secara objektif dan profesional.
Menurut Sofwan, Bawaslu merupakan pihak yang berinteraksi langsung dengan mahasiswa selama program berlangsung sehingga memiliki gambaran mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, etika, serta kinerja mereka.
“Kami tidak ingin mengintervensi atau mengubah hasil yang telah diberikan, karena Bawaslu adalah pihak yang mengetahui secara langsung bagaimana kedisiplinan, tanggung jawab, etika, serta kinerja mahasiswa kami selama menjalani magang,” tegasnya.
Ia menambahkan, sikap tersebut merupakan bagian dari komitmen kampus dalam menjaga integritas proses pendidikan. Bagi mahasiswa, nilai akhir bukan sekadar angka dalam dokumen akademik, melainkan cerminan dari proses, tanggung jawab, dan pengalaman yang telah mereka jalani.
Berakhirnya program magang pun diharapkan bukan menjadi akhir dari hubungan pembelajaran antara kampus dan Bawaslu. Sebaliknya, pengalaman tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa Uniba Madura untuk kembali ke kampus dengan wawasan yang lebih luas tentang dunia kerja, profesionalisme, serta pentingnya menjaga nilai-nilai demokrasi.
Penulis : Red
Editor : Red








