SUMENEP, detikkota.com – Polemik terkait transparansi skema pertandingan (drawing) dalam Turnamen Bulutangkis Hardiknas Sumenep Cup 2026 terus bergulir. Setelah penjelasan dari pihak PBSI Sumenep yang menyebut sistem drawing telah berbasis komputerisasi, kini muncul tanggapan dari kalangan klub yang tetap menilai perlunya keterbukaan dalam proses tersebut.
Salah satu narasumber dari klub peserta yang enggan disebutkan namanya mengakui bahwa penggunaan tournament software dalam penyusunan bagan pertandingan memang lazim digunakan. Namun, menurutnya, persoalan utama bukan pada sistem, melainkan pada potensi perubahan hasil setelah drawing dilakukan.
“Iya, memang drawing itu menggunakan sistem komputer. Tapi kalau hasilnya sudah keluar lalu diubah atau diedit, kan kita tidak tahu. Kita tidak tahu hasil awalnya seperti apa,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menegaskan bahwa keterlibatan perwakilan klub dalam momen technical meeting (TM), khususnya saat hasil drawing ditampilkan dan dicetak, menjadi penting untuk memastikan tidak ada perubahan setelahnya.
“Kalau semua dilibatkan saat hasil drawing keluar, ya semua tahu hasilnya seperti itu. Tinggal dicetak, tidak bisa diubah-ubah lagi,” lanjutnya.
Lebih jauh, ia juga menyinggung potensi konflik kepentingan jika panitia penyelenggara memiliki kedekatan dengan klub tertentu. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memunculkan kecurigaan adanya pengaturan skema pertandingan demi keuntungan pihak tertentu.
“Masalahnya panitia punya klub sendiri. Kalau hasil drawing dirasa tidak menguntungkan, bisa saja diubah. Misalnya yang berat-berat dikumpulkan dulu, lalu yang dianggap lebih ‘ringan’ diarahkan ke pihak tertentu. Itu yang dikhawatirkan,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa skema pertandingan sangat berpengaruh terhadap peluang atlet meraih juara. Oleh karena itu, transparansi dalam proses penyusunannya dinilai sebagai hal mendasar untuk menjaga sportivitas.
“Kadang atlet bisa melaju jauh bukan hanya karena kemampuan, tapi juga karena jalur pertandingan. Jadi wajar kalau kami minta prosesnya terbuka,” tegasnya.
Sebelumnya, Ketua PBSI Sumenep, Mohamad Iksan, menyatakan bahwa drawing dilakukan secara acak oleh sistem komputer dan tidak dapat diintervensi oleh panitia. Ia juga menegaskan bahwa metode tersebut merupakan bagian dari modernisasi dalam penyelenggaraan turnamen.
Meski demikian, perbedaan pandangan antara penyelenggara dan peserta menunjukkan pentingnya membangun kepercayaan melalui mekanisme yang transparan dan akuntabel, terutama dalam ajang kompetisi yang melibatkan banyak pihak.
Penulis : M
Editor : Id







