RSUD dr. H. Moh Anwar Sumenep Himbau Masyarakat Tak Perlu Panik Dengan Wabah Hepatitis Misterius

Rabu, 1 Juni 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP, detikkota.com – Kehadiran hepatitis akut misterius menjadi salah satu topik yang banyak diperbincangkan masyarakat di media sosial sejak momen lebaran lalu.

Ancaman penyakit hepatitis akut misterius yang menggegerkan masyarakat Indonesia tak membuat Pemerintah Kabupaten Sumenep menghentikan aktivitas pelayanan publik untuk masyarakat, meski kasus Covid-19 di Indonesia belum usai.

Melalui salah satu Dokter Spesialis Anak yaitu dr. Sylvia Wijaya, Sp.A, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Moh. Anwar Sumenep, Madura, Jawa Timur dr. Erliyanti, terus menghimbau masyarakat Sumenep agar tetap waspada dan tidak panik dalam menyikapi hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

dr. Sylvia mengatakan, pemerintah harus lebih kuat daripada masalah yang dihadapi, mulai dari pandemi Covid-19 hingga yang teranyar yaitu soal kasus hepatitis akut misterius.

“Kita harus lebih kuat dari pada masalah, termasuk ancaman hepatitis akut misterius itu. Kita bertindak dan mengantisipasi, tapi kita tidak boleh panik, tak boleh kita berhenti melakukan pekerjaan-pekerjaan rutin kita,” kata Dokter Spesialis Anak di RSUD Moh. Anwar Sumenep, Rabu (29/05/2022).

Menurutnya, Hepatitis akut misterius ini sebenarnya merupakan penyakit yang memiliki gejala mirip dengan gejala dari Hepatitis. Namun disebut misterius karena memang penyebabnya sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti.

dr. Silvia menjelaskan, awal munculnya penyakit ini pada akhir tahun 2021 di daerah Alabama, itu ditemukan kasus dari penyakit hepatitis akut misterius ini yang kemudian pada awal Tahun 2022 ditemukan di daerah Inggris.

Awal Mei 2022 penyakit tersebut sudah mulai sampai ke Asia dari awal Jepang, kemudian Singapura sampai ke Indonesia. Penyakit tersebut di Indonesia sendiri sudah didapatkan lebih dari 15 kasus yang diduga memang itu merupakan dari penyakit hepatitis akut misterius ini.

“Ada 3 kasus anak yang meninggal itu salah satunya terdiri dari Jawa Timur yang berasal dari Kabupaten Tulungagung. Namun ini masih diolah dan diselidiki lebih lanjut apa benar ini memang merupakan penyakit hepatitis misterius ini atau ada penyebab yang lainnya,” jelasnya.

Pihaknya menyampaikan, masyarakat agar tetap waspada jaga imun tubuh untuk terhindar dari penyakit tersebut. Merebaknya penyakit tersebut dikira sangat cepat maka dari itu masyarakat harapkan menjaga dirinya sendiri.

Jadi pihaknya berharap tetap waspada, karena memang merebaknya dirasa cukup cepat, karena dalam waktu kurang dari 6 bulan sudah bisa merebak di berbagai negara dan berbagai benua, berarti jangan masyarkat jangan sampai panik.

“Penyakit ini memang gejala awalnya dan gejala selanjutnya mirip dengan orang yang terkena Hepatitis. Gejalanya seperti mual muntah gejala utamanya ya kemudian ada diare nyeri perut kemudian ada juga yang disertai dengan demam ringan,” tuturnya.

“Untuk gejala lanjutannya seperti mulai kulit kuning, kencing seperti teh, feses pucat, jadi memang beutul mirip sekali dengan hepatitis tipe A atau kalau misalnya lanjut tipe B dan tipe C,” sambungnya.

Secara Nasional ada 3 anak dikabarkan meninggal dunia akibat terinfeksi kasus Hepatitis Akut, sedangkan di Jawa Timur menurut laporan per 2 hari yang lalu diluar Sumenep ada 114 diduga terinfeksi Hepatitis Akut.

Kemudian juga di Jawa Timur itu menurut laporan per dua hari yang lalu diberbagai tempat di luar sumenep itu ada 114 yang diduga hepatitis akut.

Saat ini, Kementerian Kesehatan RI sedang berupaya untuk melakukan investigasi penyebab kejadian hepatitis akut ini melalui pemeriksaan panel virus secara lengkap.

“Selama masa investigasi, kami menghimbau masyarakat Sumenep untuk berhati-hati dan tetap tenang. Lakukan tindakan pencegahan seperti mencuci tangan, memastikan makanan dalam keadaan matang dan bersih, tidak bergantian alat makan, menghindari kontak dengan orang sakit serta tetap melaksanakan protokol kesehatan,” ujarnya.

“Jika anak-anak memiliki gejala kuning, sakit perut, muntah-muntah dan diare mendadak, buang air kecil berwarna teh tua, buang air besar berwarna pucat, kejang, penurunan kesadaran agar segera memeriksakan anak ke fasilitas layanan kesehatan terdekat,” tandasnya. (Red)

Berita Terkait

Layanan Adminduk Online Tekan Antrean Pemohon di MPP Siola Surabaya
SPBE Banyuwangi Tertinggi Nasional, KemenPAN-RB Beri Nilai 4,87
Dinas Pertanian Subang Distribusikan Bantuan Program Upland untuk Petani Nanas
Pantau Penyemprotan Padi dengan Drone, Bupati Sumenep Dorong Swasembada Pangan Berbasis Petani
Bunda Indah Ajak Kepala Desa Solid Bangun Lumajang Lewat PKDI
Kapasitas Fiskal Rendah Jadi Tantangan Utama Penyusunan RKPD Lumajang 2027
Kapolres Sumenep Terima Penghargaan Presiden RI atas Dukungan Swasembada Pangan Nasional
Pimpin Apel Perdana 2026, Wali Kota Probolinggo Tekankan Penguatan Kinerja ASN

Berita Terkait

Jumat, 9 Januari 2026 - 14:06 WIB

SPBE Banyuwangi Tertinggi Nasional, KemenPAN-RB Beri Nilai 4,87

Kamis, 8 Januari 2026 - 12:21 WIB

Dinas Pertanian Subang Distribusikan Bantuan Program Upland untuk Petani Nanas

Rabu, 7 Januari 2026 - 16:34 WIB

Pantau Penyemprotan Padi dengan Drone, Bupati Sumenep Dorong Swasembada Pangan Berbasis Petani

Rabu, 7 Januari 2026 - 16:24 WIB

Bunda Indah Ajak Kepala Desa Solid Bangun Lumajang Lewat PKDI

Rabu, 7 Januari 2026 - 16:13 WIB

Kapasitas Fiskal Rendah Jadi Tantangan Utama Penyusunan RKPD Lumajang 2027

Berita Terbaru