JAKARTA, detikkota.com – Aktivis perempuan dan tokoh moderasi beragama, Hj. Alissa Wahid, menegaskan bahwa keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji Indonesia sangat bergantung pada dedikasi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).
Sebanyak sekitar 221 ribu jamaah haji Indonesia, menurutnya, sepenuhnya mengandalkan peran petugas selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Hal tersebut disampaikan Alissa saat memberikan materi dalam Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) PPIH 1447 Hijriah/2026 Masehi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, dengan tema Haji, Perempuan, dan Lansia.
Putri sulung Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid itu menekankan bahwa tugas petugas haji tidak cukup hanya menjalankan pelayanan teknis, tetapi juga harus dilandasi empati dan ketulusan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Petugas haji melayani manusia dengan berbagai latar belakang dan kondisi. Karena itu, pelayanannya tidak boleh hanya berhenti pada urusan teknis dan fisik, tetapi harus dilakukan sepenuh hati,” ujar Alissa.
Menurut Alissa, petugas haji Indonesia selama ini dikenal memiliki kualitas pelayanan yang menonjol dibandingkan petugas dari negara lain. Dedikasi tersebut kerap mendapat apresiasi dari jamaah mancanegara.
“Sering kali petugas haji Indonesia justru diberi makanan oleh jamaah dari negara lain sebagai bentuk terima kasih karena merasa dilayani dengan baik dan manusiawi,” katanya.
Alissa juga menyoroti tantangan terbesar petugas haji dalam mendampingi jamaah perempuan dan lanjut usia (lansia). Kedua kelompok ini dinilai lebih rentan mengalami kebingungan akibat perbedaan lingkungan, cuaca, bahasa, dan budaya, meskipun telah mendapatkan pembekalan sebelum keberangkatan.
“Jamaah perempuan dan lansia membutuhkan perhatian lebih. Perbedaan kondisi fisik dan lingkungan sering membuat mereka mudah kebingungan,” ucapnya.
Ia menambahkan, jamaah perempuan memiliki kebutuhan khusus yang berbeda dengan jamaah laki-laki, baik terkait kondisi biologis, perlengkapan ibadah, maupun pendampingan spiritual.
Dalam kesempatan tersebut, Alissa juga mengingatkan petugas haji agar siap menghadapi berbagai karakter jamaah, mulai dari yang banyak bertanya hingga yang merasa paling memahami segala hal.
“Petugas harus siap menghadapi semuanya dan kuncinya adalah kesabaran,” tegas Alissa.
Sebagai panduan pelayanan, Alissa membagikan sejumlah prinsip dalam mendampingi jamaah lansia, yakni melayani dengan sukacita, bersikap waspada, proaktif, sabar, serta tetap tenang dalam setiap situasi.
Ia juga menegaskan pentingnya penggunaan seragam petugas selama bertugas.
“Bagi jamaah, melihat petugas berseragam itu memberi rasa aman, nyaman, dan perasaan dilindungi,” pungkasnya.
Melalui pembekalan tersebut, Alissa berharap petugas haji Indonesia dapat terus menjaga reputasi pelayanan yang humanis, profesional, dan penuh empati dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026.
Penulis : Red
Editor : Red







