Petani Panen Mandiri, Peran BUMDes Saur Saebus dalam Ketahanan Pangan Dipertanyakan

Kamis, 5 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

SUMENEP, detikkota.com – Transparansi pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Saur Saebus, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, kini menjadi sorotan warga. Pasalnya, meski disebut mengelola anggaran ratusan juta rupiah, sejumlah petani mengaku tidak pernah menerima bantuan, khususnya untuk program ketahanan pangan.

Penjabat (PJ) Kepala Desa Saur Saebus, Marjuni, hingga berita ini diterbitkan tidak memberikan jawaban saat dikonfirmasi wartawan melalui pesan WhatsApp Senin (2/2/2026). Padahal, terdapat sejumlah pertanyaan krusial yang diajukan terkait pengelolaan BUMDes.

Beberapa poin yang dipertanyakan antara lain, benarkah BUMDes Desa Saur Saebus mengelola anggaran lebih dari Rp200 juta, serta peruntukan detail dari anggaran tersebut. Selain itu, juga mempertanyakan berapa besar dana yang dialokasikan khusus untuk program ketahanan pangan, serta fokus kegiatan dari program tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak hanya itu, meminta kejelasan mengenai siapa saja penerima manfaat dana ketahanan pangan juga dilontarkan dalam pertanyaan, termasuk jumlah penerima dan besaran bantuan yang disalurkan. Pertanyaan paling mendasar yang hingga kini belum terjawab adalah mengapa sebagian petani mengaku tidak pernah menerima bantuan atau bahkan tidak mengetahui adanya program ketahanan pangan dari BUMDes.

Saat dikonfirmasi terpisah, Camat Sapeken, Hamka, enggan memberikan penjelasan lebih jauh dan hanya mengarahkan agar konfirmasi dilakukan langsung kepada kepala desa.

“Silahkan konfirmasi ke Pak Kadesnya Pak,” singkat Hamka dalam pesan WhatsApp, Kamis (5/2/2026).

Sebelumnya, warga Desa Saur Saebus diketahui berhasil melakukan panen jagung. Namun, panen tersebut disebut dilakukan secara mandiri tanpa dukungan BUMDes. Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar, mengingat ketahanan pangan disebut-sebut sebagai salah satu pos utama penggunaan anggaran BUMDes.

Pengakuan warga yang tidak pernah menerima bantuan memperkuat dugaan adanya ketimpangan antara perencanaan anggaran dan realisasi di lapangan. Minimnya keterbukaan dari pihak desa dan pengelola BUMDes dinilai berpotensi menggerus kepercayaan publik.

Hingga kini, warga berharap ada penjelasan resmi dan terbuka dari pemerintah desa maupun pengelola BUMDes agar pengelolaan dana desa, khususnya yang menyangkut hajat hidup petani, tidak menimbulkan polemik berkepanjangan.

Penulis : M/Red

Editor : M/Red

Berita Terkait

Karya Bakti TNI AD Skala Besar Siap Digelar di Madura, Libatkan Ribuan Prajurit dan Perwira Tinggi
Kapolres Sumenep Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Laut pada Hari Laut Sedunia 2026
Diduga Lalai Pasang Rambu, Jalan Bekas Proyek Drainase di Sumenep Sebabkan Korban Luka Berat
MIO Indonesia Ucapkan Selamat, FORKABI Kembali Dipimpin H. Abdul Ghoni
Rembug Lansia Banyuwangi Jadi Wadah Serap Aspirasi untuk Tingkatkan Kesejahteraan
PSHT Cabang Sumenep Perkuat Silaturahmi dengan Yon TP 931/Ksatria Jokotole
Doa untuk Sang Proklamator Digelar Serentak di Sumenep, Bupati Ajak Generasi Muda Teladani Pemikiran Bung Karno
Pemeliharaan Jalan Pameungpeuk–Gandasoli Dapat Apresiasi Warga, Akses Transportasi Kian Lancar

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 23:53 WIB

Karya Bakti TNI AD Skala Besar Siap Digelar di Madura, Libatkan Ribuan Prajurit dan Perwira Tinggi

Senin, 8 Juni 2026 - 11:41 WIB

Kapolres Sumenep Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Laut pada Hari Laut Sedunia 2026

Minggu, 7 Juni 2026 - 16:47 WIB

Diduga Lalai Pasang Rambu, Jalan Bekas Proyek Drainase di Sumenep Sebabkan Korban Luka Berat

Minggu, 7 Juni 2026 - 11:01 WIB

MIO Indonesia Ucapkan Selamat, FORKABI Kembali Dipimpin H. Abdul Ghoni

Jumat, 5 Juni 2026 - 12:37 WIB

Rembug Lansia Banyuwangi Jadi Wadah Serap Aspirasi untuk Tingkatkan Kesejahteraan

Berita Terbaru