BANYUWANGI, detikkota.com – Berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat sektor pertanian, perikanan, peternakan, dan perkebunan disampaikan langsung kepada Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dalam forum “Gesah Bareng Ambi Bupati”.
Forum perdana tersebut berlangsung di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Jumat (14/8/2026), dan dihadiri ratusan warga. Sejumlah persoalan dibahas, mulai dari hilirisasi hasil pertanian, akses pemasaran, distribusi telur dan susu lokal, zonasi tangkap nelayan, hingga pengembangan komoditas kopi.
Salah satu peserta, Rahmat, alumni Jagoan Tani 2022 sekaligus pelaku usaha susu, meminta agar program Jagoan Tani tidak berhenti pada ajang kompetisi. Ia berharap para peserta tetap mendapat pendampingan sehingga usaha yang dikembangkan dapat terus tumbuh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami ingin difasilitasi agar produk kami juga bisa masuk e-katalog, hotel, ritel modern, hingga bantuan legalitas,” kata Rahmat, pemilik brand Susu Andini.
Dari sektor peternakan, Umu yang mewakili peternak ayam petelur menyampaikan tekanan usaha akibat kenaikan harga pakan. Ia mengapresiasi bantuan jagung SPHP dari pemerintah yang dinilai membantu menjaga keberlangsungan usaha peternak.
Ia berharap program tersebut dapat terus berlanjut dan menjangkau peternak skala kecil. Selain itu, pemerintah daerah diminta membantu memperluas pemasaran telur lokal ke luar daerah, termasuk kawasan Indonesia timur.
Keluhan juga disampaikan perwakilan nelayan terkait pembatasan zonasi penangkapan ikan. Persoalan tersebut menjadi perhatian karena Banyuwangi memiliki garis pantai sepanjang sekitar 175 kilometer yang membentang dari wilayah utara hingga selatan.
Sementara dari sektor perkebunan, Sekretaris Kelompok Tani Desa Gombengsari, Abdurrahman, mendorong pembentukan sentra pengolahan kopi terpadu. Menurutnya, langkah tersebut dapat meningkatkan nilai tambah hasil panen sekaligus memperkuat posisi petani dalam menghadapi permainan harga di tingkat tengkulak.
Ia juga mengusulkan dukungan pemerintah untuk meluncurkan Sekolah Kopi di Gombengsari sebagai sarana edukasi bagi generasi muda sekaligus menjaga tradisi perkebunan kopi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Aspirasi lainnya datang dari Nur Ahmadi, perwakilan kelompok ternak Kecamatan Ketapang. Ia mengapresiasi bantuan pemerintah dalam membuka akses jalan serta penyediaan fasilitas pengolahan limbah peternakan.
Warga setempat telah mengembangkan pengolahan limbah menjadi pupuk dan briket. Selain itu, susu hasil peternakan juga mulai dikembangkan sebagai produk hilir.
“Kami berharap susu hasil peternakan warga bisa masuk dalam menu MBG, Ibu Bupati,” ujarnya.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Bupati Ipuk Fiestiandani menekankan pentingnya penguatan hilirisasi dan perluasan akses pasar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bergerak di sektor pangan.
Ipuk meminta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait segera memetakan setiap usulan yang disampaikan masyarakat dan menindaklanjutinya sesuai kewenangan. Penguatan rantai pasok juga dinilai penting agar produk lokal dapat terserap pasar secara lebih luas.
“Tujuannya mendekatkan pemerintah dengan masyarakat dan mendengar langsung persoalan mereka. Saya ajak jajaran teknis untuk menindaklanjuti. Jadi bagi saya ini pertemuan yang efektif, mendengar langsung dari masyarakat dan mengeksekusinya bersama,” tegas Ipuk.
Forum “Gesah Bareng Ambi Bupati” selanjutnya akan digelar secara rutin setiap Jumat pada pekan kedua dan keempat setiap bulan. Setiap pertemuan akan mengangkat tema berbeda agar masyarakat dapat menyampaikan masukan, gagasan, maupun persoalan secara langsung kepada pemerintah daerah.
Penulis : Bi
Editor : M







