Momentum Gestok, FAMS: Stop Tanamkan Memori Ketakutan

Jumat, 1 Oktober 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Sekertaris Jendral FAMS Sumenep

Foto: Sekertaris Jendral FAMS Sumenep

SUMENEPdetikkota.com– Gerakan 1 Oktober 1965 susunan kalimat yang dilontarkan Presiden Soekarno dalam memori pertanggung jawabannya, di depan sidang umun MPR  yang monumental berjudul Nawaskara, untuk menggambarkan peristiwa paling kelam dalam sejarah perjalanan Indonesia sebagai sebuah bangsa

Peristiwa 30 September 1965 dini hari yang diwaranai dengan manuver politik Partai Komunis Indonesia (PKI) menculik Dewan Jenderal yang kemudian diekskusi di lubang buaya Jakarta. Peristiwa inilah kemudian disebut Soekarno merupakan kebelingeran dari PKI, yang kemudian mengubur habis cita-cita suci politik partai besutan DN Aidit itu

Selain itu, peritiwa berdarah itu pula yang menjadi embrio dari lengser sang penyambung lidah rakyat dari kekuasan tertinggi Republik Indonesia. Huru-hara politik 56 tahun lalu itu pula yang mengantarkan militer berkuas selama 33 tahun lamanya

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam perjalanannya, selain memakan jutaan nyawa eks PKI atau yang dianggap sebagai simpatisan PKI selama kekuasan militer. Narasi dijadikan militer sebagai instrumen politik untuk menumpas daya kritis dari oposisi dengan cara membangun narasi tunggal tentang peristiwa kelam dan menjadikan PKI sebagai epicentrum kebencian, sebagai satu entitas partai politik keji dan pembunuh

Bagi generasi yang hidup dalam dekade 70-an hingga 90-an. Ingatan traumatic itu seakan bersemayam dan membatu dalam setiap jiwa masing-masing dan bisa menjadi bom waktu ketika disulut. Basis isu itupula lah ketika memasuki alam demokrasi pasca reformasi sering dijadikan komuditas politik oleh para elite  menyasar dan mengesploitasi emosi publik tentang peristiwa tersebut. Untuk kepentingan elektoral

Hingar-bingar isu itu seolah menjadi pemandangan biasa yang selalu dalam lipatan sejarah pada setiap tahunnya. Mulai dari narasi kebangkitan PKI hinga isu infeltrasi PKI di setiap instansi resmi negara. Tentu sasaran utamanya adalah menciptakan pobia ketakutan dipublik dengan maksud terciptanya tindakan-tindakan reaksioner

Yang terbaru misalnya, meningkatnya ekskalasi isu menyusup simpatisan ditubuh TNI saat terjadinya pemindahan patung diaroma tokoh penumpasan PKI di Kostrad menjelang peringatan peristiwa yang disebut Orba G30S. Atas dasar itu salah satu entitas gerakan di Kabupaten Sumenep Front Aksi Mahasiwa Sumenep (FAMS). Pada momentum Genstok 2021 mengingatkan kepada para elite untuk mengakhiri narasi ketakutan tentang peristiwa 1965 silam tersebut

Sebab menurut Sekertaris Jendral (Sekjen) Junaidi, jika narasi dekotomi histografi tentang peristiwa tersebut terus digulirkan, hanya akan menanamkan benih-benih ketakutan dan kebencian kepada generasi penerus bangsa ini

“Stop tanamkan memori ketakutan kepada generasi muda,” katanya. Jum’at 01/10/2021

Junaidi khawatir, kapitalisasi isu kemunculan PKI ini, akan berdampak terhadap cara berfikir generasi muda yang nantinya enggan penerima sebuah perbedaan dan dengan mudah mempredikasi negatif terhadap segala bentuk perbedaan. Meskipun, ia meyakini generasi muda hari ini sudah bisa lebih bijak dan obyektif dalam menela’ah setiap isu historis yang digaungkan para elite

Hal itu, didorong banyaknya literatur hasil kajian progresif yang muncul pasca reformasi dengan memberikan sudut pandang lain diluar narasi tunggal Pemerintahan Orba. Namun, kata dia kondisi ini perlu juga harus berjalan equivalen dengan tindakan-tindakan yang lebih bijak oleh para elite politik utamanya didalam menyampaikan  pendapat

“Saya berharap generasi muda hari ini, dapat membaca sejarah dari berbagai sudut pandang agar tidak kemakan isu-isu ketakutan mengenai peritiwa lampau itu,” harapnya

Ia tidak menampik bahwa setiap sejarah harus diingat oleh generasi muda, sebagai bagian penting dalan perjalanan sebagai sebuah bangsa, seperti kata Bung Karno Jasmerah (Jangan sekali-kali melupakan sejarah). Khususnya untuk peristiwa Gestok, aktivis muda ini mengajak generasi muda agar belajar bahwa peritiwa kelam, berdarah pada masa silam itu jangan sampai terulang kembali dikemudian hari. Dan lebih fokus untuk membangun daya kritis sebagai sumbangsi nyata dalam ruang demokrasi, serta memecahkan setiap tantangan yang sedang dihadapi

“Mari belajar dari peristiwa Gestok, bahwa tidak bisa dibenarkan menghilangkan nyawa atas nama apapun,” tegasnya. (TH)

Berita Terkait

Tradisi Kitiran Sewu di Pasuruan Kembali Digelar, Warga Putar Seribu Kincir Angin Saat Ramadan
Sepekan Dibuka, Posko Pengaduan THR di Pamekasan Belum Terima Laporan
Jembatan Gantung Seneporejo Diresmikan, Mobilitas Warga dan Pelajar Makin Lancar
Babinsa dan Warga Guworejo Gotong Royong Uruk Bahu Jalan Rusak
BMKG Sumenep: Bibit Badai Menjauh, Warga Diminta Waspadai Cuaca Pancaroba
Cak Eri Pimpin Cipta Kondisi Asuhan Rembulan, Evaluasi Parkir Non Tunai di Surabaya
Ramadan Penuh Kebersamaan, LBH Achmad Madani Putra dan Rekan-Rekan Gelar Doa Bersama dan Buka Puasa
Pemkab Banyuwangi Peringati Nuzulul Quran, Bupati Ipuk Ajak Perkuat Solidaritas

Berita Terkait

Selasa, 10 Maret 2026 - 11:58 WIB

Tradisi Kitiran Sewu di Pasuruan Kembali Digelar, Warga Putar Seribu Kincir Angin Saat Ramadan

Selasa, 10 Maret 2026 - 09:55 WIB

Sepekan Dibuka, Posko Pengaduan THR di Pamekasan Belum Terima Laporan

Senin, 9 Maret 2026 - 17:26 WIB

Jembatan Gantung Seneporejo Diresmikan, Mobilitas Warga dan Pelajar Makin Lancar

Senin, 9 Maret 2026 - 16:29 WIB

Babinsa dan Warga Guworejo Gotong Royong Uruk Bahu Jalan Rusak

Senin, 9 Maret 2026 - 14:44 WIB

BMKG Sumenep: Bibit Badai Menjauh, Warga Diminta Waspadai Cuaca Pancaroba

Berita Terbaru