Ribuan Peserta Ikuti Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa” di Banyuwangi

Minggu, 28 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Festival Tari Gandrung “Dari Masa ke Masa” di Gelanggang Kesenian Banyuwangi (Gesibu), 24–26 Desember 2025. (Foto: Dok. Pemkab Banyuwangi)

Festival Tari Gandrung “Dari Masa ke Masa” di Gelanggang Kesenian Banyuwangi (Gesibu), 24–26 Desember 2025. (Foto: Dok. Pemkab Banyuwangi)

BANYUWANGI, detikkota.com – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar Festival Tari Gandrung “Dari Masa ke Masa” sebagai upaya pelestarian sekaligus promosi berkelanjutan terhadap Tari Gandrung. Kegiatan tersebut diikuti ribuan peserta dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan Bali.

Festival berlangsung selama tiga hari, 24–26 Desember 2025, di Gelanggang Kesenian Banyuwangi (Gesibu). Sebanyak sekitar 1.500 peserta dari tingkat TK hingga SMA serta kategori umum ambil bagian dalam kompetisi ini. Peserta berasal dari sejumlah daerah, antara lain Yogyakarta, Gresik, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, hingga Bali.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan bahwa Tari Gandrung merupakan identitas budaya Banyuwangi yang mengandung nilai sejarah, filosofi, dan kebersamaan. Menurutnya, festival ini tidak hanya menjadi ajang lomba, tetapi juga sarana menjaga keberlanjutan warisan budaya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tari Gandrung adalah identitas budaya Banyuwangi. Lomba ini bukan sekadar kompetisi, tetapi upaya melestarikan warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman,” kata Ipuk, Sabtu (27/12/2025).

Ipuk menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan mengembangkan seni tradisi.

“Lomba ini juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mencintai dan mengembangkan seni tradisi,” ujarnya.
Ia turut mengapresiasi peran para pegiat seni dan komunitas yang konsisten melakukan regenerasi penari Gandrung serta mempromosikan seni tersebut hingga tingkat nasional dan internasional.

“Terima kasih kepada semua pihak yang telah menginisiasi dan mendukung kegiatan ini,” ucap Ipuk.

Sementara itu, inisiator sekaligus penyelenggara Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa”, Sabar Haryanto, mengatakan bahwa kegiatan tersebut telah memasuki tahun ketiga penyelenggaraan dan selalu diikuti ribuan peserta setiap tahunnya.

“Sebagai pegiat seni daerah, ini adalah bentuk dukungan dan partisipasi kami bersama pemerintah untuk terus menghidupkan dan melestarikan Gandrung, khususnya di kalangan generasi muda,” ujar Sabar, yang juga pengasuh Sanggar Tari Lang Lang Buana Banyuwangi.

Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia secara khusus mengundang sanggar dan komunitas tari dari luar daerah. Hal tersebut dilakukan karena Tari Gandrung kini telah berkembang dan dikenal luas di berbagai wilayah.

“Alhamdulillah peserta dari luar kota cukup banyak. Ini menunjukkan Tari Gandrung sudah familiar dan diminati di luar Banyuwangi,” katanya.

Dalam kompetisi tersebut, peserta menampilkan delapan variasi Tari Gandrung, di antaranya Gandrung Seblang Lukinto, Gandrung Gurit Mangir, Gandrung Jaran Dawuk, Gandrung Variasi, Gandrung Sri Dewi, Gandrung Kembang Menur, dan Gandrung Marsan.

“Kompetisi ini juga menjadi cara mengenalkan beragam jenis dan variasi Tari Gandrung yang berkembang sesuai konteks budaya, cerita rakyat, dan kreativitas seniman,” jelas Sabar.

Salah satu pelatih tari asal Lumajang, Nasseh, mengaku menurunkan dua grup dalam kompetisi tersebut. Ia menyebut Tari Gandrung sudah akrab di komunitasnya sehingga persiapan tidak menemui kendala berarti.

“Kami berlatih sejak November, dan tidak terlalu kesulitan karena teman-teman sudah mengenal Tari Gandrung,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu penari, Ikrom, siswa kelas IX SMPN 1 Tempeh, Lumajang, mengaku senang dapat mengikuti lomba Tari Gandrung di Banyuwangi.

“Gerakannya susah-susah gampang saat latihan, tapi bersyukur bisa mengikuti lomba ini dan masuk final,” kata Ikrom yang membawakan Tari Gandrung Marsan, tarian Gandrung yang dibawakan oleh penari laki-laki.

Penulis : Bi

Editor : Red

Berita Terkait

Pawai Lampion Semarakkan Malam Banyuwangi, Budaya Blambangan Jadi Sorotan
Pawai Budaya Pakistaji Meriah, Angkat Kesenian Tradisional dan UMKM Lokal
Iringan Kebanggaan: Purwakarta Teguhkan Ajeg Budaya di Malam Festival Budaya
Khofifah: Banyuwangi Ethno Carnival Bukti Budaya Lokal Mampu Mendunia
Rangkaian BEC 2026 Suguhkan Enam Event, Pemkab Banyuwangi Siapkan Atraksi Budaya hingga Festival UMKM
Ketum Garda Bintang Timur Daenk Jamal Salurkan Daging Kurban 2 Sapi 4 Kambing
Kodim 0827/Sumenep Tebar Kepedulian Lewat Kurban Idul Adha 1447 H
Kiai Qusyai Apresiasi Konsistensi Said Abdullah Berbagi Hewan Kurban untuk Warga Madura

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:34 WIB

Pawai Lampion Semarakkan Malam Banyuwangi, Budaya Blambangan Jadi Sorotan

Senin, 10 Agustus 2026 - 13:34 WIB

Pawai Budaya Pakistaji Meriah, Angkat Kesenian Tradisional dan UMKM Lokal

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:46 WIB

Iringan Kebanggaan: Purwakarta Teguhkan Ajeg Budaya di Malam Festival Budaya

Sabtu, 18 Juli 2026 - 23:13 WIB

Khofifah: Banyuwangi Ethno Carnival Bukti Budaya Lokal Mampu Mendunia

Senin, 13 Juli 2026 - 12:41 WIB

Rangkaian BEC 2026 Suguhkan Enam Event, Pemkab Banyuwangi Siapkan Atraksi Budaya hingga Festival UMKM

Berita Terbaru

Ketua Umum MIO Indonesia AYS Prayogi.

Polhukam

Kasus Hotman Paris, MIO Desak Polisi Jangan Tebang Pilih

Minggu, 23 Agu 2026 - 23:05 WIB