Distribusi Pupuk Subsidi di Sapeken Terhambat, Petani Kepulauan Harus Bayar Ongkos Ganda

Rabu, 13 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP, detikkota.com – Polemik distribusi pupuk bersubsidi di wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan. Petani di Kecamatan Sapeken mengeluhkan jalur penyaluran yang panjang, tidak efisien, dan tidak tepat sasaran, sehingga menambah beban biaya bagi mereka.

Tokoh muda asal Desa Saur Saebus, Inyoman Sudirman, mengungkapkan bahwa pada penyaluran tahun lalu, jatah pupuk untuk desanya hanya dikirim hingga Desa Sabuntan. Untuk mendapatkannya, petani harus menyeberangi laut dan menyewa perahu, meski biaya distribusi sudah tercantum dalam anggaran pemerintah kabupaten.

“Kalau memang ada anggaran kirim dari kabupaten, kenapa pupuk tidak langsung sampai ke pulau kami?” tegas Sudirman, Rabu (13/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menjelaskan, hambatan distribusi ini membuat petani harus mengeluarkan ongkos ganda — biaya transportasi dari desa ke lokasi penebusan pupuk, ditambah ongkos laut yang nilainya bisa mencapai ratusan ribu rupiah per perjalanan. Kondisi ini dinilai merugikan, mengingat pupuk subsidi merupakan bantuan negara yang seharusnya memudahkan petani.

Sudirman memetakan empat persoalan utama yang menyebabkan penyaluran pupuk bersubsidi di kepulauan tidak berjalan efektif:

1. Data RDKK Tidak Akurat – Banyak petani tidak tercatat sebagai penerima, sementara pihak yang bukan petani justru terdaftar.

2. Lemahnya Pengawasan – Minimnya kontrol di lapangan membuat pupuk rentan diselewengkan.

3. Penyimpangan oleh Oknum – Ada praktik ilegal menjual pupuk subsidi di luar ketentuan.

4. Kurangnya Edukasi Petani – Minimnya sosialisasi membuat petani tidak memahami mekanisme penyaluran dan hak mereka.

Ia menegaskan, persoalan ini tidak hanya berdampak pada produktivitas lahan, tetapi juga pada keberlangsungan ketahanan pangan di daerah. “Pupuk adalah urat nadi pertanian. Jika akses petani terhadap pupuk terputus, produksi akan menurun, lahan menjadi tidak tergarap, dan kesejahteraan petani semakin tertinggal,” ujarnya.

Masyarakat setempat berharap pemerintah daerah segera mengevaluasi sistem distribusi, memastikan penyaluran tepat sasaran, tepat jumlah, dan tepat lokasi, termasuk ke pulau-pulau kecil seperti Saur Saebus.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Dinas Pertanian Kabupaten Sumenep terkait keluhan warga Sapeken tersebut.

Berita Terkait

Nama Muhlis Fajar Mulai Dibicarakan Jelang Pilkades Paseraman 2027
Warga Margasari Purwakarta Diharapkan Rasakan Kenyamanan, Penataan TPA Cikolotok Jadi Langkah Atasi Persoalan Sampah
Ketua Media Independen Online Sukabumi Kutuk Keras Dugaan Penyimpangan Revitalisasi Sekolah
Kapolresta Ariek Turun Langsung Salurkan Bantuan Air Bersih ke Warga Batuputih
Sorotan Proyek Ratusan Juta DINSOSP3A Purwakarta, FKD Tuntut Transparansi
Digitalisasi Parkir Surabaya Capai 1.541 Titik, 163 Jukir Tak Perpanjang KTA Ditertibkan
Jalan Lingkungan Desa Cigelam Mulai Diperbaiki, Warga Rasakan Manfaatnya
Kampung Pancasila Surabaya Didorong Jadi Gerakan Perubahan Perilaku Warga

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 12:31 WIB

Nama Muhlis Fajar Mulai Dibicarakan Jelang Pilkades Paseraman 2027

Jumat, 25 September 2026 - 13:15 WIB

Warga Margasari Purwakarta Diharapkan Rasakan Kenyamanan, Penataan TPA Cikolotok Jadi Langkah Atasi Persoalan Sampah

Jumat, 25 September 2026 - 11:21 WIB

Ketua Media Independen Online Sukabumi Kutuk Keras Dugaan Penyimpangan Revitalisasi Sekolah

Senin, 21 September 2026 - 19:20 WIB

Kapolresta Ariek Turun Langsung Salurkan Bantuan Air Bersih ke Warga Batuputih

Senin, 21 September 2026 - 15:10 WIB

Sorotan Proyek Ratusan Juta DINSOSP3A Purwakarta, FKD Tuntut Transparansi

Berita Terbaru