SUMENEP, detikkota.com – Batik Canteng Koneng terus berupaya mempertahankan kualitas produknya sebagai salah satu batik khas Kabupaten Sumenep dengan menjaga kompetensi sumber daya manusia (SDM) para pembatik. Langkah tersebut dinilai penting agar mutu produk tetap terjaga dan kepercayaan konsumen tidak menurun.
Pengelola Batik Canteng Koneng, Yudi, mengatakan membentuk tenaga pembatik yang terampil bukan perkara mudah. Proses pelatihan membutuhkan waktu cukup panjang karena setiap pengrajin harus menguasai teknik membatik tangan dengan baik serta mampu menghasilkan motif yang berkualitas.
“Untuk melatih pengrajin agar benar-benar bisa membatik dengan baik bisa membutuhkan waktu selama satu hingga dua tahun agar bisa mumpuni, karena Batik Canteng Koneng lebih mengutamakan desain yang bagus dan kualitas,” ujar Yudi, Selasa (21/7/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, kualitas dan desain menjadi kekuatan utama Batik Canteng Koneng. Produk yang memiliki mutu tinggi akan memberikan kepuasan kepada pelanggan dan mendorong promosi secara alami melalui rekomendasi dari mulut ke mulut.
Selain menjaga kualitas produksi, Batik Canteng Koneng juga mulai memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk memperkenalkan produknya. Namun, pemanfaatan platform digital tersebut masih difokuskan sebagai sarana membangun kesadaran merek (brand awareness), belum untuk penjualan secara masif.
“Kami memang belum memanfaatkan marketplace seperti Shopee secara aktif karena kendala pembaruan stok produk batik yang unik, satu foto hanya untuk satu barang. Sehingga pelanggan dari luar kota seperti Surabaya, Jakarta, dan daerah lainnya yang pernah datang langsung biasanya melakukan pemesanan ulang melalui WhatsApp,” jelas Yudi.
Ia menambahkan, Batik Canteng Koneng saat ini menyasar segmen pasar menengah ke atas, terutama kalangan pegawai, karyawan perkantoran, hingga pejabat. Produk yang dipasarkan didominasi pakaian batik atasan resmi untuk kebutuhan kerja maupun rapat.
Harga Batik Canteng Koneng dipasarkan mulai sekitar Rp600 ribu hingga Rp5 juta per potong, menyesuaikan tingkat kerumitan motif, kualitas bahan, dan proses pengerjaan batik tulis yang dilakukan secara manual.
Penulis : Red
Editor : Red







