JAKARTA, detikkota.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi saat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa memasuki Maret 2026, curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia diperkirakan berada pada kategori rendah hingga tinggi, bahkan sangat tinggi di beberapa daerah.
“Kami sampaikan bahwa nantinya di beberapa daerah pada saat memasuki Idulfitri, kita masih menghadapi cuaca ekstrem, terutama di Jawa Barat dan Jawa Tengah, yang merupakan rute mobilitas pemudik paling banyak,” ujar Faisal dalam Rapat Koordinasi Persiapan Penyelenggaraan Angkutan Lebaran di Kementerian Perhubungan, Jakarta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Tengah memiliki potensi curah hujan sangat tinggi. Karena itu, langkah mitigasi perlu dilakukan sejak dini.
“Untuk mengurangi risiko bencana, kami mendorong langkah mitigasi terpadu, seperti Operasi Modifikasi Cuaca yang akan dilakukan secara situasional berbasis kebutuhan dan pertimbangan ilmiah,” katanya.
Faisal menambahkan, pemerintah daerah dengan tingkat risiko tinggi dapat berkoordinasi dengan BMKG dan BNPB terkait pelaksanaan OMC. BMKG juga akan terus memperbarui informasi dan memberikan peringatan dini cuaca secara berkala.
“Apabila ada kondisi yang membahayakan seperti Siklon Tropis Senyar beberapa waktu lalu, kami akan bersurat langsung kepada para kepala daerah agar dapat mengambil tindakan atau antisipasi segera,” tegasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan bahwa berdasarkan prediksi dasarian II Februari 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas rendah hingga menengah.
“Secara umum wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan dengan kategori rendah hingga menengah, yakni sekitar 20–150 milimeter per dasarian,” ujar Andri.
Ia menambahkan, periode Februari hingga Maret masih berada dalam musim hujan, terutama di wilayah selatan ekuator seperti Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
“Februari–Maret masih berada dalam periode musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia, sehingga potensi hujan masih cukup dominan, termasuk hujan sedang hingga lebat secara lokal di wilayah tertentu,” jelasnya.
Secara klimatologis, awal musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada April hingga Mei 2026, diawali dari wilayah Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat sebelum meluas secara bertahap ke wilayah lain.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi resmi perkembangan cuaca guna mengantisipasi potensi gangguan selama periode mudik dan perayaan Lebaran 2026.
Penulis : M/Red
Editor : M/Red







