Polisi Tidur di Tanjakan Desa Rombiya Timur Picu Polemik, Warga Soroti Pembangunan Tanpa Prosedur

Jumat, 13 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi polisi tidur yang dibangun di ruas jalan tanjakan Dusun Klampok Timur 1, Desa Rombiya Timur, Kecamatan Ganding, yang diprotes warga karena dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan.

Kondisi polisi tidur yang dibangun di ruas jalan tanjakan Dusun Klampok Timur 1, Desa Rombiya Timur, Kecamatan Ganding, yang diprotes warga karena dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan.

SUMENEP, detikkota.com – Pembuatan polisi tidur di ruas jalan tanjakan Dusun Klampok Timur 1, Desa Rombiya Timur, Kecamatan Ganding, menuai sorotan warga. Pembangunan yang dilakukan tanpa melalui prosedur resmi tersebut dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan dan memicu ketegangan antara oknum perangkat desa dengan seorang tokoh masyarakat setempat.

Abd Waris (45), warga Desa Rombiya Timur, menuturkan bahwa persoalan bermula ketika sejumlah warga membuat polisi tidur di jalan yang menjadi akses utama menuju permukiman. Namun, konstruksi awal bangunan tersebut dinilai terlalu curam sehingga dikhawatirkan dapat memicu kecelakaan.

“Posisinya di tanjakan, jadi cukup berbahaya bagi kendaraan yang melintas,” ujar Waris kepada media ini, Jumat (13/3/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Melihat kondisi tersebut, sebagian warga kemudian berinisiatif membongkar dan memperbaiki polisi tidur agar lebih aman dilalui kendaraan.

Namun, rencana pembongkaran itu mendapat penolakan dari oknum perangkat desa. Oknum tersebut justru meminta agar polisi tidur yang sudah ada diperbaiki dengan menambahkan semen di bagian atas agar bentuknya lebih landai.

Sejumlah warga menyebutkan, alasan tersebut dikaitkan dengan upaya mengarahkan aliran air ke sisi jalan agar tidak merusak badan jalan. Namun menurut warga, secara teknis persoalan aliran air seharusnya ditangani melalui sistem drainase, bukan dengan membangun polisi tidur.

Selain itu, proses pengerjaan disebut dilakukan secara tergesa-gesa tanpa memperhatikan standar keselamatan bagi pengguna jalan.

Situasi kemudian memanas saat proses penambahan semen masih dalam kondisi basah. Pada saat yang sama, seorang tokoh masyarakat yang juga dikenal sebagai kiai setempat melintas menggunakan mobil karena memiliki keperluan mendesak.

Menurut Waris, meskipun telah dipasang tanda peringatan di lokasi pekerjaan, posisi penanda dinilai terlalu dekat dengan titik perbaikan sehingga pengendara tidak memiliki jarak cukup untuk berhenti atau menghindar.

“Apalagi jalannya menurun, kendaraan sulit berhenti mendadak atau mundur karena berisiko menimbulkan kecelakaan,” jelasnya.

Akibatnya, kendaraan yang dikendarai tokoh masyarakat tersebut terpaksa melintas dan meninggalkan bekas roda di permukaan semen yang masih basah. Hal itu menyebabkan bagian perbaikan yang baru saja dikerjakan mengalami kerusakan.

Peristiwa tersebut kemudian memicu reaksi emosional dari oknum perangkat desa yang disebut meluapkan kemarahan kepada tokoh masyarakat tersebut.

Bahkan, menurut keterangan sejumlah warga, dalam situasi emosi oknum perangkat desa itu sempat melontarkan pernyataan agar masjid yang berada di bawah naungan tokoh kiai tersebut dibongkar sebagai bentuk “balasan” atas rusaknya perbaikan polisi tidur.

Warga berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan secara bijak oleh pemerintah desa. Mereka juga meminta agar pembangunan fasilitas jalan ke depan dilakukan sesuai prosedur serta memperhatikan standar keselamatan bagi pengguna jalan.

Penulis : M

Editor : Id

Berita Terkait

Krisis Air Bersih Empat Bulan, Warga Langsar Sumenep Dapat Bantuan
Cuaca Sumenep Berubah Cepat, BMKG Ingatkan Warga dan Nelayan Waspada
Kades Nuryadi “Abah Haji” Buktikan Pembangunan Lumbung Desa, Petani Kini Punya Tempat Penyimpanan Hasil Panen
Tiga Bulan Masuk DPO, Keberadaan Guru ASN di Sumenep Belum Terungkap
ATEP HERU TIADA, BELPUR BERDUKA
GPN Jatim dan DLH Sumenep Investigasi Dugaan Limbah Tambak Udang di Pesisir Ambunten
Wali Kota Eri Datangi Penyalur ART di Gunung Anyar, Pekerja Terjerat Denda Rp3,5 Juta Dipulangkan
Hari Tani Nasional 2026, Bupati Probolinggo Soroti Pupuk dan Harga Komoditas

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 17:21 WIB

Krisis Air Bersih Empat Bulan, Warga Langsar Sumenep Dapat Bantuan

Senin, 5 Oktober 2026 - 16:58 WIB

Cuaca Sumenep Berubah Cepat, BMKG Ingatkan Warga dan Nelayan Waspada

Senin, 5 Oktober 2026 - 10:24 WIB

Kades Nuryadi “Abah Haji” Buktikan Pembangunan Lumbung Desa, Petani Kini Punya Tempat Penyimpanan Hasil Panen

Selasa, 29 September 2026 - 16:38 WIB

ATEP HERU TIADA, BELPUR BERDUKA

Selasa, 29 September 2026 - 16:35 WIB

GPN Jatim dan DLH Sumenep Investigasi Dugaan Limbah Tambak Udang di Pesisir Ambunten

Berita Terbaru