Puan Maharani Dorong Pertanian Dijadikan Agrowisata

Jumat, 12 November 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANYUWANGI, detikkota.com – Ketua DPR RI Puan Maharani bertemu dengan para petani di areal persawahan Dewi Rembang, Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi, Jumat (12/11/2021). Ia turut serta memanen padi jenis Inpari 32 sampai jenis Black Madras (padi hitam).

Puan dengan lancar menggunakan sabit untuk memotong helaian padi di pematang sawah. Sembari mengobrol hangat dengan para petani perempuan.

“Sampean medamele nopo (Anda bekerja apa)?” sapa Puan berbahasa Jawa. Dijawab Siti Munawaroh, “Buruh tani,” jawab Siti yang sedang memanen padi bersamanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Laute jam pinten (selesainya jam berapa)? “Jam 12,” jawab para perempuan petani itu dengan kompak.

“Sawah di Desa Banjar, Dusun Rembang, kecamatan Licin ini adalah bukti nyata bahwa kegiatan pertanian kita itu memiliki potensi besar untuk dijadikan agrowisata,” kata Puan.

Perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR itu mengatakan, persawahan di Licin memperlihatkan bagaimana proses mengolah tanah hingga panen bisa menjadi atraksi wisata yang bagus. Oleh karenanya, Puan mendorong pertanian di daerah lain bisa menjadikan kegiatan tani di Licin ini sebagai contoh.

“Agrowisata seperti ini bisa menjadi keunggulan pariwisata Indonesia karena kita memilki banyak lahan pertanian dan perkebunan,” tuturnya.

Puan pun memuji masyarakat Banyuwangi yang solid menjadikan kegiatan pertanian sebagai hal membanggakan. Ia menyebut, upaya masyarakat Banyuwangi melestarikan kebudayaan patut diacungkan jempol.

“Kegiatan di sini dilakukan dengan semangat gotong royong, kolaborasi dengan petani. Tanam sama-sama, panen sama-sama, produktivitas naik, juga mengangkat tradisi lokal bagaimana membajak tanah, dan menanam,” ucap Puan.

“Tapi masyarakat Banyuwangi juga terbuka dengan perkembangan zaman, melakukan pertanian modern menggunakan transplenter rice. Artinya petani di agrowisata bukanlah penonton tapi pelaku,” lanjut mantan Menko PMK itu.

Usai memanen, Puan lalu memberikan sejumlah bantuan kepada masyarakat Banyuwangi. Kepada Kelompok Tani, ia memberikan 20 unit hand tractor, 20 unit pompa air, 10 sprayers.

Kemudian untuk Kelompok Difable, Puan memberikan 50 kursi roda, 25 alat bantu dengar, 10 tongkat elektrik dan sembako yang akan didistribusikan oleh Pemkab Banyuwangi. Puan juga memberi bantuan untuk 3 orang pelajar berupa laptop, tools kit, dan sarana video kreatif.

Tak hanya itu, sebanyak 215 paket diberikan sebagai santuan untuk janda-janda korban Covid-19. Puan juga memberikan santunan kepada 200 anak yatim-piatu korban Covid-19, yang dilakukan secara simbolis.

“Semoga sedikit bantuan ini dapat meringankan beban warga. Kehadiran saya di sini pun sebagai upaya menyerap aspirasi masyarakat. Apabila ada permasalahan, kami akan bantu mencarikan solusinya,” tutup Cucu Proklamator RI Bung Karno tersebut.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang turut mendampingi menyebutkan bahwa pertanian merupakan salah satu prioritas dari program kerjanya. Berbagai hal mendasar dalam dunia pertanian menjadi hal yang diperbaikinya. Di antaranya dengan meningkatkan wawasan para petani guna meningkatkan produktivitas hasil taninya.

“Kami memperkenalkan varietas bibit unggulan kepada para petani agar hasil panennya lebih melimpah. Juga lebih tahan hama. Seperti di kawasan Dewi Rembang ini, kami kembangkan varietas Inpari 23 dan Black Madras,” terang Ipuk.

Selain itu, lanjut Ipuk, secara bertahap para petani digerakkan untuk menggunakan pupuk organik dalam setiap masa tanamnya. Hal ini untuk menjawab kelangkaan pupuk anorganik yang selama ini kerap dikeluhkan oleh para petani.

“Kami gencarkan bantuan pupuk organik kepada seluruh kelompok tani di Banyuwangi. Selain untuk mengatasi kelangkaan pupuk, ini juga untuk mengubah pola pemupukan yang selama ini banyak menggunakan bahan kiamiwi. Dengan pupuk organik yang lebih terjangkau ini, bisa juga untuk menyelamatkan tanah dari pencemaran,” terangnya.

Tidak hanya mengubah tata kelola pertaniannya, Ipuk juga concern untuk meningkatkan nilai tambah pertanian. Seperti halnya pengelolaan pasca panen sampai sisi lain di luar dunia pertanian.

“Di kawasan Dewi Rembang ini misalnya, kita juga jadikan dari destinasi wisata. Sehingga para petani tidak hanya mendapatkan penghasilan dari nantinya hasil panen. Tapi, juga dari hasil pemasukan saat ada kunjungan wisatawan di tempat ini,” pungkas Ipuk. (*)

Berita Terkait

Kapolresta Sumenep Pimpin Sertijab, 10 Pejabat Baru Resmi Tempati Posisi Strategis
Sambutan Warga Iringi Kunjungan Presiden Prabowo ke Jembrana, Bali
Banyuwangi Kembali Jadi Pilot Project Nasional Pengentasan Kemiskinan
Ribuan Anak Probolinggo Tampilkan Budaya Nusantara di HUT RI
Operasi Gabungan Gagalkan Penyelundupan 2,6 Ton Sabu Cair dan 1,57 Juta Rokok Ilegal di Kepri
Semarak HUT ke-81 RI, Pemkot Probolinggo Gelar Lomba Antar-OPD
Curanmor di Lenteng Terungkap, Pelaku Ditangkap Kurang dari 24 Jam
Menko Pangan Tampung Keluhan Petani Banyuwangi, Janji Kawal Perbaikan Irigasi

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 13:57 WIB

Kapolresta Sumenep Pimpin Sertijab, 10 Pejabat Baru Resmi Tempati Posisi Strategis

Selasa, 25 Agustus 2026 - 23:53 WIB

Sambutan Warga Iringi Kunjungan Presiden Prabowo ke Jembrana, Bali

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 16:44 WIB

Banyuwangi Kembali Jadi Pilot Project Nasional Pengentasan Kemiskinan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 16:41 WIB

Ribuan Anak Probolinggo Tampilkan Budaya Nusantara di HUT RI

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 02:59 WIB

Operasi Gabungan Gagalkan Penyelundupan 2,6 Ton Sabu Cair dan 1,57 Juta Rokok Ilegal di Kepri

Berita Terbaru

Ketua Umum MIO Indonesia AYS Prayogi.

Polhukam

Kasus Hotman Paris, MIO Desak Polisi Jangan Tebang Pilih

Minggu, 23 Agu 2026 - 23:05 WIB