SUMENEP, detikkota.com – Pembuatan polisi tidur di ruas jalan tanjakan Dusun Klampok Timur 1, Desa Rombiya Timur, Kecamatan Ganding, menuai sorotan warga. Pembangunan yang dilakukan tanpa melalui prosedur resmi tersebut dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan dan memicu ketegangan antara oknum perangkat desa dengan seorang tokoh masyarakat setempat.
Abd Waris (45), warga Desa Rombiya Timur, menuturkan bahwa persoalan bermula ketika sejumlah warga membuat polisi tidur di jalan yang menjadi akses utama menuju permukiman. Namun, konstruksi awal bangunan tersebut dinilai terlalu curam sehingga dikhawatirkan dapat memicu kecelakaan.
“Posisinya di tanjakan, jadi cukup berbahaya bagi kendaraan yang melintas,” ujar Waris kepada media ini, Jumat (13/3/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Melihat kondisi tersebut, sebagian warga kemudian berinisiatif membongkar dan memperbaiki polisi tidur agar lebih aman dilalui kendaraan.
Namun, rencana pembongkaran itu mendapat penolakan dari oknum perangkat desa. Oknum tersebut justru meminta agar polisi tidur yang sudah ada diperbaiki dengan menambahkan semen di bagian atas agar bentuknya lebih landai.
Sejumlah warga menyebutkan, alasan tersebut dikaitkan dengan upaya mengarahkan aliran air ke sisi jalan agar tidak merusak badan jalan. Namun menurut warga, secara teknis persoalan aliran air seharusnya ditangani melalui sistem drainase, bukan dengan membangun polisi tidur.
Selain itu, proses pengerjaan disebut dilakukan secara tergesa-gesa tanpa memperhatikan standar keselamatan bagi pengguna jalan.
Situasi kemudian memanas saat proses penambahan semen masih dalam kondisi basah. Pada saat yang sama, seorang tokoh masyarakat yang juga dikenal sebagai kiai setempat melintas menggunakan mobil karena memiliki keperluan mendesak.
Menurut Waris, meskipun telah dipasang tanda peringatan di lokasi pekerjaan, posisi penanda dinilai terlalu dekat dengan titik perbaikan sehingga pengendara tidak memiliki jarak cukup untuk berhenti atau menghindar.
“Apalagi jalannya menurun, kendaraan sulit berhenti mendadak atau mundur karena berisiko menimbulkan kecelakaan,” jelasnya.
Akibatnya, kendaraan yang dikendarai tokoh masyarakat tersebut terpaksa melintas dan meninggalkan bekas roda di permukaan semen yang masih basah. Hal itu menyebabkan bagian perbaikan yang baru saja dikerjakan mengalami kerusakan.
Peristiwa tersebut kemudian memicu reaksi emosional dari oknum perangkat desa yang disebut meluapkan kemarahan kepada tokoh masyarakat tersebut.
Bahkan, menurut keterangan sejumlah warga, dalam situasi emosi oknum perangkat desa itu sempat melontarkan pernyataan agar masjid yang berada di bawah naungan tokoh kiai tersebut dibongkar sebagai bentuk “balasan” atas rusaknya perbaikan polisi tidur.
Warga berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan secara bijak oleh pemerintah desa. Mereka juga meminta agar pembangunan fasilitas jalan ke depan dilakukan sesuai prosedur serta memperhatikan standar keselamatan bagi pengguna jalan.
Penulis : M
Editor : Id







