Dialog Budaya “Membaca Keris Sumenep” Tegaskan Sumenep sebagai Pusat Peradaban Keris Nusantara

Kamis, 26 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejarawan, budayawan, dan tokoh keraton berdiskusi dalam forum “Membaca Keris Sumenep” di Pos Pelayanan Terminal Arya Wiraraja, Rabu (25/3) malam.

Sejarawan, budayawan, dan tokoh keraton berdiskusi dalam forum “Membaca Keris Sumenep” di Pos Pelayanan Terminal Arya Wiraraja, Rabu (25/3) malam.

SUMENEP, detikkota.com – Dialog budaya bertajuk “Membaca Keris Sumenep” digelar di Pos Pelayanan Polres Sumenep, Terminal Arya Wiraraja, Rabu (25/3) malam. Forum tersebut menghadirkan sejarawan Tadjul Arifien R, kurator Helmi Art Museum Helmi, serta sesepuh Keraton Sumenep RB Abdurrahman.

Diskusi yang dipandu Ibnu Hajar itu turut dihadiri Kapolres Sumenep AKBP Anang Hardiyanto sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal.

Dalam pemaparannya, Tadjul Arifien R menegaskan bahwa Sumenep memiliki sejarah panjang sebagai pusat perkerisan yang telah tercatat sejak abad ke-13.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sumenep telah memiliki keris sejak tahun 1292 M sebagaimana tertera dalam Serat Pararaton, melalui kisah kridaning besilat dhuwung yang dimainkan Lembusora, Ranggalawe, dan Nambi di Keraton Daha. Mereka membawa keris dari Sumenep,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan perkerisan di Sumenep mulai terstruktur sejak masa Arya Wiraraja, dengan hadirnya Mpu Ida Rsi dari klan Soroh Pande Bali sebagai pelopor tradisi empu di wilayah tersebut.

“Pada masa Arya Wiraraja, pembuat keris di Sumenep adalah Mpu Ida Rsi dari klan Soroh Pande Bali. Ia menjadi cikal bakal lahirnya para empu di Sumenep,” jelasnya.

Perkembangan itu berlanjut pada abad ke-14 melalui Mpu Brahmaraja atau Bujangga Kayumanis, serta tokoh Jokotole yang selain menjabat sebagai adipati juga dikenal sebagai empu keris.

“Tahun 1415, Jokotole R Aryo Kudopanole bukan hanya Adipati Sumenep, tetapi juga seorang empu keris,” ungkapnya.

Tadjul juga menjelaskan, pada tahun 1560, Kyai Supo dari Pajang pernah diperintahkan Sultan Hadiwijaya untuk belajar perkerisan di Sumenep, yang kemudian memperkuat posisi daerah tersebut sebagai pusat keilmuan keris.

“Pada 1560, Kyai Supo dari Pajang diperintahkan Sultan Hadiwijaya untuk belajar kepada Pangeran Lor di Sumenep. Dari sini, lahir banyak murid yang menyebarkan ilmu keris ke berbagai daerah,” tuturnya.

Ia menambahkan, tradisi empu terus berkembang hingga abad ke-18 dengan sejumlah tokoh penting yang menjaga kesinambungan warisan tersebut. Bahkan hingga kini, Sumenep masih menjadi rujukan dalam produksi keris.

“Sejak zaman Presiden Soeharto hingga sekarang, setiap negara ingin memberikan cenderamata keris kepada kepala negara asing, pesanannya datang dari Sumenep,” pungkasnya.

Sementara itu, moderator Ibnu Hajar menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya merawat warisan budaya sekaligus memperkuat identitas daerah.

“Ini bukan hanya tentang keris sebagai benda pusaka, tetapi sebagai warisan intelektual dan identitas budaya Madura. Sumenep harus terus ditegaskan sebagai pusat pengetahuan perkerisan Nusantara,” ujarnya.

Penulis : M

Editor : Id

Berita Terkait

MEC 2026 Umumkan Peringkat Terbaik, Sumenep Mendominasi Kategori Pelajar
MEC 2026 Digelar di Keraton Sumenep, Budaya Jadi Penggerak Ekonomi
Tatorbangan Ritual Culture di Torbang, Upaya Jaga Tradisi dan Kearifan Lokal
Festival Tani Ganding 2026 Padukan Pertanian, Budaya dan UMKM
Gema Sholawat di Stadion A. Yani: Ribuan Warga Sumenep Larut dalam Ketakziman Madura Bersholawat 2026
Enam Grup Terbaik Festival Hadrah Klasik Sumenep 2026 Resmi Diumumkan
Maulid Nabi 1448 H, Kapolresta Sumenep Tekankan Keteladanan Akhlak Rasulullah
Pawai Lampion Semarakkan Malam Banyuwangi, Budaya Blambangan Jadi Sorotan

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 02:17 WIB

MEC 2026 Umumkan Peringkat Terbaik, Sumenep Mendominasi Kategori Pelajar

Minggu, 20 September 2026 - 02:03 WIB

MEC 2026 Digelar di Keraton Sumenep, Budaya Jadi Penggerak Ekonomi

Senin, 14 September 2026 - 09:00 WIB

Tatorbangan Ritual Culture di Torbang, Upaya Jaga Tradisi dan Kearifan Lokal

Sabtu, 12 September 2026 - 13:51 WIB

Festival Tani Ganding 2026 Padukan Pertanian, Budaya dan UMKM

Kamis, 3 September 2026 - 22:31 WIB

Gema Sholawat di Stadion A. Yani: Ribuan Warga Sumenep Larut dalam Ketakziman Madura Bersholawat 2026

Berita Terbaru