Tradisi Puter Kayun Banyuwangi Kembali Digelar, Warga Boyolangu Napak Tilas Leluhur

Senin, 30 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga Boyolangu menaiki dokar hias dalam tradisi Puter Kayun sebagai bentuk napak tilas menuju Pantai Watu Dodol.

Warga Boyolangu menaiki dokar hias dalam tradisi Puter Kayun sebagai bentuk napak tilas menuju Pantai Watu Dodol.

BANYUWANGI, detikkota.com – Warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Banyuwangi, kembali menggelar tradisi Puter Kayun pada bulan Syawal sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus napak tilas leluhur.

Tradisi yang dilaksanakan setiap 10 Syawal ini merupakan wujud pemenuhan janji kepada Ki Buyut Jakso, tokoh yang diyakini berjasa membuka akses jalan di kawasan utara Banyuwangi.

Dalam pelaksanaannya, warga melakukan napak tilas dengan menaiki dokar hias dari Boyolangu menuju Pantai Watu Dodol. Tahun ini, dua dokar dihias dan disiapkan untuk mengiringi prosesi tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu kusir dokar, Abdul Mufid (65), mengaku telah mengikuti tradisi ini sejak puluhan tahun lalu.

“Saya sudah menjadi kusir sejak 1971. Setiap tahun selalu ikut Puter Kayun bersama warga. Yang terpenting dalam tradisi ini adalah napak tilasnya,” ujarnya.

Ketua panitia Puter Kayun, Risyal Alfani, menjelaskan tradisi ini berangkat dari kisah Ki Buyut Jakso yang dipercaya mampu membuka jalan di wilayah utara Banyuwangi.

“Ki Buyut Jakso diminta membantu membuka jalan di kawasan utara yang sulit ditembus. Dengan kesaktiannya, jalan itu berhasil dibuka hingga dikenal sebagai Watu Dodol,” jelasnya.

Ia menambahkan, sejak saat itu Ki Buyut Jakso berpesan agar keturunannya rutin melakukan napak tilas ke Pantai Watu Dodol.

Namun, pada pelaksanaan tahun ini, rute perjalanan dokar tidak sampai ke lokasi tujuan akibat kemacetan menuju Pelabuhan Ketapang. Prosesi hanya dilakukan dengan berkeliling di wilayah kota.

Sejumlah warga yang biasanya mengikuti iring-iringan dengan kendaraan roda empat pun terpaksa beralih menggunakan sepeda motor untuk menghindari kemacetan.

Pelaksana Tugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga tradisi lokal.

“Banyuwangi berkomitmen melestarikan tradisi masyarakat, termasuk Puter Kayun Boyolangu. Selain menjaga budaya, ini juga menjadi daya tarik wisata,” katanya.

Sebelum puncak acara, rangkaian kegiatan telah digelar sejak 7 Syawal melalui Lebaran Kopat, dilanjutkan tradisi Kebo-keboan pada 9 Syawal sebagai bagian dari Boyolangu Traditional Culture.

Tradisi ini diharapkan terus terjaga sebagai warisan budaya sekaligus memperkuat identitas lokal Banyuwangi.

Penulis : Bi

Editor : M/Red

Berita Terkait

Tradisi Combodug Sampang 2026 Berlangsung Meriah, Ribuan Warga Padati Lokasi
Larasati 2026 Hidupkan Ruang Publik dan Gairahkan Ekonomi Kreatif Kota Probolinggo
Ratusan Peserta Meriahkan Festival Ketupat 2026 di Pantai Lombang
Dialog Budaya “Membaca Keris Sumenep” Tegaskan Sumenep sebagai Pusat Peradaban Keris Nusantara
Lomba Kapal Tradisional Perkuat Identitas Maritim Kepulauan Seribu Utara
Dear Jatim Santuni Anak Yatim di Panti Asuhan Amanah 1 Sumenep
Ngaji Budaya dan Pameran Pusaka Nusantara 2026 Digelar di Kraksaan
Tradisi Kitiran Sewu di Pasuruan Kembali Digelar, Warga Putar Seribu Kincir Angin Saat Ramadan

Berita Terkait

Minggu, 29 Maret 2026 - 13:34 WIB

Tradisi Combodug Sampang 2026 Berlangsung Meriah, Ribuan Warga Padati Lokasi

Sabtu, 28 Maret 2026 - 11:48 WIB

Larasati 2026 Hidupkan Ruang Publik dan Gairahkan Ekonomi Kreatif Kota Probolinggo

Kamis, 26 Maret 2026 - 13:02 WIB

Ratusan Peserta Meriahkan Festival Ketupat 2026 di Pantai Lombang

Kamis, 26 Maret 2026 - 12:39 WIB

Dialog Budaya “Membaca Keris Sumenep” Tegaskan Sumenep sebagai Pusat Peradaban Keris Nusantara

Rabu, 25 Maret 2026 - 20:55 WIB

Lomba Kapal Tradisional Perkuat Identitas Maritim Kepulauan Seribu Utara

Berita Terbaru