Rupiah Masih Tertekan Meski Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen

Jumat, 8 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, detikkota.com – Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan.

Pada perdagangan Kamis (7/5/2026), rupiah tercatat berada di level Rp17.362 per dolar AS atau menguat tipis 25 poin dibanding perdagangan sebelumnya. Meski demikian, posisi mata uang Garuda masih berada di kisaran Rp17.300 setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp17.424 per dolar AS, yang menjadi titik terlemah sepanjang sejarah.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama tahun ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Direktur Eksekutif Center of Economic Reforms (CORE) Indonesia, Muhammad Faisal, menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga berkaitan dengan persepsi investor terhadap kondisi domestik.

Menurutnya, kekhawatiran investor terhadap kesehatan fiskal, tata kelola anggaran, potensi pelebaran defisit, hingga efektivitas kebijakan pemerintah memengaruhi arus modal keluar dari Indonesia.

Ia menyebut faktor domestik tersebut membuat pergerakan rupiah tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang saat ini masih ditopang konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

Pandangan serupa disampaikan ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira. Ia menilai investor melihat pertumbuhan ekonomi 5,61 persen bersifat sementara karena terlalu bergantung pada belanja negara.

Bhima menyoroti konsumsi pemerintah yang tumbuh hingga 21,81 persen pada kuartal I 2026. Menurutnya, lonjakan belanja negara memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi pelebaran defisit APBN pada periode mendatang.

Selain itu, ia menilai pelaku pasar masih meragukan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional karena sektor riil, khususnya manufaktur, belum menunjukkan pemulihan penuh.

“PMI manufaktur masih berada di zona kontraksi sehingga pasar belum sepenuhnya yakin pertumbuhan ekonomi saat ini mencerminkan penguatan sektor riil,” ujarnya.

Penulis : Jack

Editor : Jack

Berita Terkait

Surat Mengendap Hampir Tiga Bulan, BTN Sumenep Baru Buka Suara Soal KPR dan Perumahan
BSI dan Pemkab Subang Gelar “Subang Berhaji” untuk Antisipasi Keterbatasan Kuota Haji
Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.420–Rp17.460 per Dolar AS
Direktur BPRS Bhakti Sumekar: Hardiknas 2026 Momentum Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan Generasi Muda
BI Gandeng BRI Sumenep, Gaungkan Cinta Rupiah ke Generasi Muda
Operasi Pasar LPG 3 Kg di Probolinggo Diserbu Warga, Harga Dijaga Tetap Stabil
Analis Nilai Harga Emas Berpotensi Menguat di Tengah Dinamika Global
Polisi Turun Sawah, Dukung Ketahanan Pangan Lewat Penanaman Jagung di Gapura

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:31 WIB

Rupiah Masih Tertekan Meski Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen

Jumat, 8 Mei 2026 - 12:43 WIB

Surat Mengendap Hampir Tiga Bulan, BTN Sumenep Baru Buka Suara Soal KPR dan Perumahan

Rabu, 6 Mei 2026 - 15:13 WIB

BSI dan Pemkab Subang Gelar “Subang Berhaji” untuk Antisipasi Keterbatasan Kuota Haji

Rabu, 6 Mei 2026 - 11:09 WIB

Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.420–Rp17.460 per Dolar AS

Sabtu, 2 Mei 2026 - 14:34 WIB

Direktur BPRS Bhakti Sumekar: Hardiknas 2026 Momentum Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan Generasi Muda

Berita Terbaru

Ilustrasi

Ekonomi

Rupiah Masih Tertekan Meski Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:31 WIB

Ilustrasi

Internasional

Bank Sentral Dunia Jual 30 Ton Emas, Tekan Harga Logam Mulia Global

Jumat, 8 Mei 2026 - 12:27 WIB