PROBOLINGGO, detikkota.com – Kelompok Tani (Poktan) Masa Baru, Desa Jatisari, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Probolinggo, mendapat pelatihan mengolah limbah ternak kambing menjadi pupuk bokasi yang diperkaya jamur Trichoderma sp.
Pelatihan yang berlangsung Selasa (8/9/2026) tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong penerapan pertanian ramah lingkungan dengan memanfaatkan bahan organik yang tersedia di lingkungan petani.
Kegiatan tersebut didampingi Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perkebunan Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya, Ika Ratmawati.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam praktiknya, petani memanfaatkan sekitar satu ton kotoran kambing sebagai bahan utama. Limbah tersebut kemudian dicampur dengan dua liter dekomposer EM4 dan dua liter molase, serta air secukupnya hingga kondisi bahan menjadi lembap.
Campuran selanjutnya ditutup menggunakan terpal untuk menjalani proses fermentasi. Bahan kompos perlu dibalik setiap dua hari agar proses fermentasi berlangsung optimal.
Proses tersebut membutuhkan waktu sekitar 14 hingga 20 hari. Kompos dinyatakan matang apabila suhunya sudah tidak panas, berwarna gelap, teksturnya mulai hancur dan tidak lagi mengeluarkan bau.
Setelah kompos matang, bahan tersebut kemudian diperkaya dengan Trichoderma sp.
Ika Ratmawati menjelaskan, Trichoderma sp merupakan mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan sebagai agen hayati untuk membantu mengendalikan sejumlah penyakit tanaman.
“Trichoderma sp efektif menghambat perkembangan jamur patogen seperti Fusarium dan penyakit busuk pangkal batang. Selain itu, jamur ini juga membantu meningkatkan kesehatan tanah,” jelasnya.
Menurut Ika, kombinasi kotoran kambing yang telah matang dengan Trichoderma sp menghasilkan bokasi padat yang kaya bahan organik. Penggunaan pupuk tersebut dapat membantu memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman.
Teknologi tersebut juga relatif mudah diterapkan petani secara mandiri. Setelah kompos matang, Trichoderma sp dicampurkan secara merata sebelum pupuk digunakan di lahan.
“Penggunaannya juga sederhana, cukup sekitar satu genggam per lubang tanam sebagai pupuk dasar atau pupuk tambahan,” ujarnya.
Ketua Poktan Masa Baru, Karsan, mengatakan Desa Jatisari memiliki potensi bahan organik yang cukup besar. Sebagian besar petani di wilayah tersebut juga memelihara kambing sehingga limbah ternak relatif mudah diperoleh.
“Di sini rata-rata petani punya ternak kambing. Selama ini limbah kotoran kambing belum dimanfaatkan secara optimal,” kata Karsan.
Ia berharap pelatihan tersebut dapat mendorong petani memproduksi pupuk sendiri dengan memanfaatkan limbah yang tersedia di sekitar mereka.
Selain mengurangi limbah peternakan, pemanfaatan kotoran kambing menjadi pupuk hayati diharapkan dapat menekan biaya pemupukan sekaligus menjaga kualitas tanah.
Poktan Masa Baru pun didorong menerapkan teknologi pengomposan tersebut secara mandiri untuk mendukung pertanian yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Penulis : Sya
Editor : Red








