JAKARTA, detikkota.com – BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di berbagai wilayah Indonesia pada periode 5 hingga 11 Mei 2026.
Berdasarkan analisis model cuaca numerik, pertumbuhan awan Cb diperkirakan terjadi secara signifikan baik di wilayah daratan maupun perairan. Awan jenis ini dikenal berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem seperti hujan lebat, kilat, petir, serta gangguan turbulensi yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.
BMKG mengelompokkan wilayah dengan tingkat kemunculan awan tinggi ke dalam kategori Frequent (FRQ), yaitu dengan cakupan lebih dari 75 persen. Wilayah yang masuk kategori ini meliputi Laut Arafuru bagian tengah, Laut Banda, Laut Jawa bagian timur, Laut Maluku, Laut Seram, serta Samudra Hindia di barat Aceh, barat Lampung, dan selatan Banten. Untuk wilayah daratan, Provinsi Maluku juga termasuk dalam kategori tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pada wilayah dengan kategori frequent, pertumbuhan awan terjadi secara masif dan berkelanjutan, sehingga berpotensi mengganggu jarak pandang serta aktivitas pelayaran dan penerbangan,” demikian keterangan BMKG.
Selain itu, BMKG juga mencatat adanya potensi kategori Occasional (OCNL) dengan cakupan awan antara 50 hingga 75 persen yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Wilayah tersebut mencakup sebagian besar Pulau Sumatera, Jawa, seluruh Kalimantan dan Sulawesi, hingga wilayah Indonesia timur seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara, dan Papua.
BMKG menjelaskan bahwa informasi ini merupakan bagian dari prakiraan cuaca penerbangan yang berlaku selama tujuh hari ke depan, dengan tiga kategori utama yakni Isolated (ISOL) di bawah 50 persen, Occasional (OCNL) 50–75 persen, dan Frequent (FRQ) di atas 75 persen.
Pihak BMKG mengimbau para pelaku transportasi, khususnya pilot dan nakhoda, untuk meningkatkan kewaspadaan saat melintasi wilayah terdampak. Masyarakat juga diminta waspada terhadap potensi perubahan cuaca secara tiba-tiba yang dapat terjadi akibat pertumbuhan awan tersebut.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui kanal resmi BMKG maupun aplikasi InfoBMKG.
Penulis : Jack
Editor : Jack/Red







