Migas Berlimpah, Kemiskinan Masih Mengakar di Sumenep

Selasa, 16 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP, detikkota.com — Keberadaan industri minyak dan gas bumi (migas) di Kabupaten Sumenep, Madura, belum memberikan dampak signifikan terhadap penurunan angka kemiskinan masyarakat. Di tengah beroperasinya delapan perusahaan migas asing di perairan sekitar Sumenep, wilayah tersebut justru masih tercatat sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Timur.

Pemuda Kepulauan Sapeken, Faisal Islami, menilai kondisi tersebut terjadi karena keterbatasan kewenangan pemerintah kabupaten dalam pengelolaan sektor migas. Secara administratif, Sumenep tidak dikategorikan sebagai daerah penghasil migas, sehingga tidak memiliki ruang strategis untuk mengelola dan mengoptimalkan manfaat ekonomi dari aktivitas eksploitasi energi di wilayahnya.

“Makanya perusahaan migas tidak bisa menurunkan angka kemiskinan di Sumenep, karena secara administratif wilayah kerja mereka tidak masuk dalam yurisdiksi kabupaten,” ujar Faisal, Senin (16/12/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat ini, sejumlah perusahaan migas asing tercatat aktif beroperasi di perairan Sumenep, di antaranya Kangean Energy Indonesia (KEI), Santos Madura Offshore, Husky-CNOOC Madura Limited (HCML), Energi Mineral Langgeng (EML), Petrojava North Kangean (PNK), Techwin Energi Madura Ltd, Petronas, dan Husky Anugerah Limited. Namun, keberadaan perusahaan tersebut dinilai belum memberikan efek pengganda ekonomi yang nyata bagi masyarakat lokal.

Faisal menjelaskan, perubahan regulasi melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah turut mempersempit peran pemerintah kabupaten. Dalam regulasi tersebut, kewenangan pengelolaan migas hingga radius 12 mil laut dialihkan ke pemerintah provinsi.

“Pemerintah kabupaten hanya menerima dampak turunan, sementara kewenangan utama ada di provinsi. Ini membuat daerah kesulitan mengintervensi langsung sektor strategis migas,” jelasnya.

Kondisi tersebut diperparah dengan keterbatasan kelembagaan daerah. Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Sumenep belum memiliki dinas khusus yang menangani sektor kelautan dan energi. “Di Pemkab Sumenep tidak ada dinas kelautan, yang ada hanya dinas perikanan,” ungkap Faisal.

Ia juga menilai bahwa penurunan angka kemiskinan sebesar 2,4 persen di Sumenep tidak dapat dikaitkan langsung dengan aktivitas migas. Menurutnya, capaian tersebut lebih disebabkan oleh program pemerintah daerah yang didukung anggaran besar, bukan dari kontribusi dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) migas.

“Ironisnya, justru kecamatan yang berdekatan dengan wilayah operasi migas menjadi kantong kemiskinan,” katanya.

Meski data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan kemiskinan, Kabupaten Sumenep hingga kini masih berada di posisi teratas daerah termiskin di Jawa Timur. Kondisi ini menegaskan adanya ketimpangan antara besarnya nilai ekonomi sumber daya alam yang dieksploitasi dan minimnya manfaat yang kembali kepada masyarakat daerah.

Penulis : Red

Editor : Red

Berita Terkait

Wajah Ekonomi Sumenep dari Pinggir Jalan Panglima Sudirman
BMKG Prakirakan Mayoritas Wilayah Jawa Timur Cerah Berawan
Kuliner Ikan Asap Blimbingsari Banyuwangi Bertahan Sejak 1977, Jadi Favorit Wisatawan
Surat Mengendap Hampir Tiga Bulan, BTN Sumenep Baru Buka Suara Soal KPR dan Perumahan
Upah Tak Kunjung Cair, Buruh Pegaraman 1 Siap Kepung PT Garam
Dandim 0827/Sumenep Tinjau Pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Ambunten
Klarifikasi Proyek Rehabilitasi Gedung Dinas Perikanan dan Peternakan Purwakarta
Upah Buruh Pegaraman 1 PT Garam Belum Dibayar, Sekitar 100 Pekerja Mogok

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 10:06 WIB

Wajah Ekonomi Sumenep dari Pinggir Jalan Panglima Sudirman

Sabtu, 9 Mei 2026 - 08:51 WIB

BMKG Prakirakan Mayoritas Wilayah Jawa Timur Cerah Berawan

Sabtu, 9 Mei 2026 - 08:49 WIB

Kuliner Ikan Asap Blimbingsari Banyuwangi Bertahan Sejak 1977, Jadi Favorit Wisatawan

Rabu, 6 Mei 2026 - 17:25 WIB

Upah Tak Kunjung Cair, Buruh Pegaraman 1 Siap Kepung PT Garam

Rabu, 6 Mei 2026 - 16:45 WIB

Dandim 0827/Sumenep Tinjau Pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Ambunten

Berita Terbaru

Ilustrasi

Ekonomi

Rupiah Masih Tertekan Meski Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:31 WIB