TOPENG KEKUASAAN: KETIKA JABATAN MENJADI PANGGUNG EGO, BUKAN ALAT PENGABDIAN

Jumat, 6 November 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: S.Edy Kachonk Songenep

Jabatan sering kali diposisikan sebagai puncak pencapaian tertinggi dalam karier, politik, maupun struktur sosial. Di atas kertas, setiap kursi kekuasaan dirancang mulia: sebagai jembatan untuk melayani dan membawa perubahan. Namun, dalam realitas sosial hari ini, kita kerap menyaksikan pemandangan sebaliknya—di mana kursi kekuasaan menjelma menjadi panggung teater demi memuaskan ego pribadi.

Fenomena ini melahirkan “politik pencitraan” dan “kepemimpinan artifisial”. Orientasinya bukan lagi tentang seberapa besar dampak positif bagi publik, melainkan seberapa besar tepuk tangan dan validasi sosial yang bisa direngkuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Wajah Asli di Balik Topeng

Dulu, kekuasaan diukur dari keringat yang tumpah untuk rakyat. Kini, ukuran itu kerap bergeser menjadi seberapa sering seseorang tampil dan menutupi kegagalan kinerja di balik karisma semu.

Indikator nyata ketika jabatan direduksi menjadi panggung ego:

Haus Validasi: Kebijakan diukur dari potensi viral atau pujian, bukan kebutuhan masyarakat.

Anti-Kritik: Kritik publik dianggap sebagai serangan terhadap ego pribadi, bukan masukan konstruktif.

Gaya Hidup Eksklusif: Memperlebar jarak sosial dan psikologis antara pemimpin dan rakyatnya.

Menghidupkan Kembali Esensi Pengabdian

Kekuasaan pada dasarnya adalah amanah yang rapuh. Sudah saatnya publik lebih kritis menilai pemimpin—bukan dari kemilau retorika, melainkan dari integritas, empati, dan rekam jejak kerja nyata.

Sebab, panggung pertunjukan sehebat apa pun pasti akan menemui babak akhir, dan lampu sorot pada akhirnya akan padam. Yang tertinggal bukanlah riuh tepuk tangan, melainkan jejak kebaikan atau kerusakan yang ditinggalkan.

Pertanyaannya bagi setiap pemegang kuasa hari ini: apakah Anda sedang memimpin untuk melayani, atau sekadar berakting demi memuaskan ego sendiri?

Berita Terkait

SURAT AI PADA PRESIDEN DAN MENHAN
Sudah 16 Tahun Belum Cukup? Kades AMJ Kini Minta Jabatan Tanpa Batas
Bantahan Kader HMI: Jawaban untuk Cak Imin Soal Tudingan “NU Terpuruk Sejak Dipimpin Kader HMI”
KUALITAS GURU DAN TENAGA PENDIDIK: KUNCI UTAMA PENDIDIKAN BERKUALITAS
Serapan Anggaran Melambat, Disparitas Membesar
Krisis Air yang Dipelihara: Warga Pinggirpapas dan Karanganyar Menunggu Negara Hadir
Dua Wajah Negara
Ramadan dan “Panggung Santunan” Anak Yatim

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 17:39 WIB

TOPENG KEKUASAAN: KETIKA JABATAN MENJADI PANGGUNG EGO, BUKAN ALAT PENGABDIAN

Kamis, 1 Oktober 2026 - 15:08 WIB

SURAT AI PADA PRESIDEN DAN MENHAN

Jumat, 11 September 2026 - 11:13 WIB

Sudah 16 Tahun Belum Cukup? Kades AMJ Kini Minta Jabatan Tanpa Batas

Sabtu, 5 September 2026 - 02:11 WIB

Bantahan Kader HMI: Jawaban untuk Cak Imin Soal Tudingan “NU Terpuruk Sejak Dipimpin Kader HMI”

Kamis, 7 Mei 2026 - 10:26 WIB

KUALITAS GURU DAN TENAGA PENDIDIK: KUNCI UTAMA PENDIDIKAN BERKUALITAS

Berita Terbaru