BRI, UMKM, dan Tantangan Dampak Nyata: Antara Ekspansi Kredit, CSR, dan Digitalisasi

Kamis, 19 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: Ilustrasi)

(Foto: Ilustrasi)

SUMENEP, detikkota.com – Di tengah ambisi memperkuat ekonomi kerakyatan, peran PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) kerap menjadi sorotan. Sebagai bank dengan jaringan terluas hingga pelosok desa, BRI selama ini dikenal sebagai tulang punggung pembiayaan UMKM dan pelopor inklusi keuangan.

Namun pertanyaan mendasar muncul: sejauh mana penyaluran kredit, program CSR, dan digitalisasi yang dijalankan benar-benar berdampak transformasional bagi masyarakat?

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ekspansi Kredit dan Realitas di Lapangan

BRI dikenal sebagai salah satu penyalur terbesar Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Indonesia. Skema ini dirancang untuk memperluas akses modal bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang selama ini kesulitan mengakses pembiayaan formal.

Di atas kertas, akses kredit semakin mudah. Syarat administratif lebih sederhana dibanding kredit komersial. Namun di lapangan, tantangan tidak berhenti pada pencairan dana.

Banyak pelaku UMKM menghadapi persoalan klasik: minim literasi keuangan dan manajemen usaha. Kredit yang seharusnya digunakan untuk modal produktif tak jarang tercampur dengan kebutuhan konsumtif. Ketika perputaran usaha tersendat, cicilan berubah menjadi beban.

Di sinilah letak persoalan mendasar: kredit tanpa pendampingan berkelanjutan berisiko tidak menghasilkan lompatan ekonomi yang signifikan. UMKM memang bertahan, tetapi belum tentu naik kelas.

UMKM Naik Kelas: Antara Harapan dan Fakta

Istilah “UMKM naik kelas” kerap menjadi jargon dalam berbagai program pemberdayaan. Namun realitas menunjukkan, banyak usaha mikro hanya mampu menjaga stabilitas pendapatan tanpa ekspansi berarti.

Kendala bukan hanya soal modal, melainkan juga akses pasar, inovasi produk, branding, dan kemampuan digital. Tanpa intervensi komprehensif, tambahan modal hanya memperbesar skala risiko, bukan memperbesar peluang.

Di sejumlah daerah, pelaku UMKM mengaku terbantu oleh akses kredit BRI. Namun sebagian lainnya menyebut tantangan terbesarnya justru pada pemasaran dan adaptasi digital, bukan semata permodalan.

Artinya, transformasi ekonomi tidak cukup hanya dengan menyalurkan dana. Ia memerlukan ekosistem pembinaan yang terintegrasi.

CSR: Citra atau Dampak Berkelanjutan?

Sebagai perusahaan BUMN, BRI juga memiliki tanggung jawab sosial melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Program ini menyasar sektor pendidikan, sosial, hingga pemberdayaan ekonomi.

Di tingkat masyarakat, CSR kerap terlihat dalam bentuk bantuan fasilitas umum, santunan, atau dukungan kegiatan sosial. Namun muncul pertanyaan kritis: apakah program tersebut telah dirancang berbasis kebutuhan jangka panjang?

Kritik yang sering muncul di masyarakat adalah pendekatan CSR yang cenderung seremonial. Bantuan diberikan, tetapi monitoring dampaknya tidak selalu terukur. Padahal, pemberdayaan sejati menuntut keberlanjutan dan evaluasi.

CSR yang efektif semestinya selaras dengan penguatan UMKM, literasi keuangan, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Jika tidak, CSR berisiko menjadi sekadar pelengkap laporan tahunan.

Inklusi Keuangan: Akses Fisik Belum Tentu Akses Pemahaman

BRI memiliki jaringan unit kerja hingga tingkat desa. Secara geografis, akses layanan perbankan relatif lebih dekat dibanding beberapa dekade lalu. Namun inklusi keuangan bukan hanya soal keberadaan kantor atau agen.

Masih terdapat kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya memahami manfaat produk perbankan. Sebagian warga pelosok tetap bergantung pada pinjaman informal atau rentenir karena prosesnya dianggap lebih cepat dan sederhana.

Di sisi lain, rendahnya literasi keuangan membuat sebagian masyarakat kurang memahami risiko kredit, bunga, dan kewajiban pembayaran. Perluasan rekening tidak otomatis berarti peningkatan kualitas pengelolaan keuangan.

Digitalisasi: Kemudahan atau Kesenjangan Baru?

Transformasi digital menjadi fokus utama sektor perbankan, termasuk BRI. Berbagai layanan kini dapat diakses melalui aplikasi, dari pembukaan rekening hingga transaksi kredit.

Digitalisasi menawarkan efisiensi dan kecepatan. Namun di wilayah pedesaan, tantangan muncul dalam bentuk keterbatasan jaringan internet, rendahnya literasi digital, hingga maraknya penipuan berbasis daring.

Bagi generasi muda dan pelaku usaha yang melek teknologi, digitalisasi menjadi peluang besar. Tetapi bagi kelompok lanjut usia atau masyarakat dengan pendidikan terbatas, digitalisasi bisa menjadi hambatan baru.

Tanpa edukasi dan pendampingan, transformasi digital berpotensi menciptakan kesenjangan akses, bukan memperluasnya.

Tantangan Ganda: Target Bisnis dan Misi Sosial

Sebagai bank komersial sekaligus BUMN, BRI berada pada posisi unik. Di satu sisi, perusahaan dituntut mencapai target bisnis dan kinerja keuangan. Di sisi lain, ada mandat sosial untuk mendorong pemberdayaan ekonomi rakyat.

Ketegangan antara orientasi profit dan misi sosial menjadi tantangan strategis. Penyaluran kredit harus tetap prudent, tetapi juga inklusif. Digitalisasi harus efisien, tetapi tidak boleh meninggalkan kelompok rentan.

Ke Depan: Ukuran Keberhasilan yang Sesungguhnya

Ukuran keberhasilan bukan hanya pada besarnya kredit tersalurkan atau jumlah rekening baru, melainkan pada perubahan nyata di tingkat rumah tangga dan pelaku usaha.

Apakah pendapatan UMKM meningkat signifikan?
Apakah lapangan kerja baru tercipta?
Apakah literasi keuangan masyarakat membaik?

Ke depan, integrasi antara kredit, pendampingan usaha, literasi keuangan, dan digitalisasi berbasis edukasi menjadi kunci. CSR perlu dirancang berbasis data kebutuhan daerah, bukan sekadar agenda rutin.

Di tengah dinamika ekonomi nasional, peran BRI sebagai bank rakyat diuji bukan hanya oleh angka-angka laporan keuangan, tetapi oleh seberapa jauh keberadaannya benar-benar mengubah kualitas hidup masyarakat.

Karena pada akhirnya, transformasi ekonomi bukan soal berapa banyak dana yang digulirkan, melainkan seberapa besar dampaknya terasa di dapur-dapur rumah tangga rakyat kecil.

Penulis : M

Editor : M

Berita Terkait

Bupati Ipuk Deklarasikan Banyuwangi ASRI, Selaraskan Program Indonesia ASRI Presiden Prabowo
Jelang Ramadan, Bupati Sumenep dan Forkopimda Pantau Harga Sembako di Pasar Anom
Jelang Ramadan, Harga Bahan Pokok di Lumajang Relatif Stabil
Clean Rivers Dukung Banyuwangi Bangun Dua TPS3R, Target Layani 850 Ribu Jiwa
Jelang Ramadan, Satgas Pangan Banyuwangi Sidak Pasar, Harga Relatif Stabil
Ribuan Bibit Ikan Ditebar di Ranu Sentong, Wali Kota Aminuddin Dorong Kelestarian dan Ekonomi Lokal
Banyuwangi Disiapkan Jadi Pemasok Bioetanol Nasional, Pabrik 30 Ribu KL Dibangun di Glenmore
Presiden Prabowo Bahas Arah Politik Luar Negeri Bersama Tokoh dan Akademisi di Istana

Berita Terkait

Kamis, 19 Februari 2026 - 09:19 WIB

BRI, UMKM, dan Tantangan Dampak Nyata: Antara Ekspansi Kredit, CSR, dan Digitalisasi

Rabu, 18 Februari 2026 - 21:17 WIB

Bupati Ipuk Deklarasikan Banyuwangi ASRI, Selaraskan Program Indonesia ASRI Presiden Prabowo

Jumat, 13 Februari 2026 - 12:34 WIB

Jelang Ramadan, Bupati Sumenep dan Forkopimda Pantau Harga Sembako di Pasar Anom

Jumat, 13 Februari 2026 - 10:55 WIB

Jelang Ramadan, Harga Bahan Pokok di Lumajang Relatif Stabil

Jumat, 13 Februari 2026 - 10:53 WIB

Clean Rivers Dukung Banyuwangi Bangun Dua TPS3R, Target Layani 850 Ribu Jiwa

Berita Terbaru

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menyampaikan kebijakan penyesuaian jam kerja ASN selama Ramadan 1447 Hijriah di lingkungan Pemkab Sumenep.

Pemerintahan

Pemkab Sumenep Kurangi Jam Kerja ASN Selama Ramadan 1447 H

Kamis, 19 Feb 2026 - 10:22 WIB