JAKARTA, detikkota.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah pada kisaran Rp17.420 hingga Rp17.460 pada perdagangan Rabu (6/5/2026).
Berdasarkan data perdagangan sebelumnya, rupiah tercatat melemah sekitar 0,14 persen ke level Rp17.409 per dolar AS. Sepanjang sesi, mata uang Garuda sempat bergerak di rentang Rp17.437 hingga Rp17.385 per dolar AS.
Selain rupiah, sejumlah mata uang Asia juga mengalami tekanan, di antaranya yuan China, dolar Hong Kong, yen Jepang, won Korea, dolar Singapura, hingga baht Thailand.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyebut penguatan dolar AS dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Iran. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar global, terutama terkait stabilitas kawasan strategis seperti Selat Hormuz.
“Ketegangan geopolitik mendorong penguatan dolar AS dan berdampak pada pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ujarnya.
Ia menambahkan, situasi tersebut juga memberi tekanan pada kebijakan moneter Federal Reserve yang berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang pengetatan lanjutan jika inflasi meningkat.
Di sisi lain, data domestik menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan. Kinerja tersebut ditopang oleh konsumsi masyarakat yang meningkat, terutama saat periode libur nasional dan hari besar keagamaan.
Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi, rupiah sempat menguat sekitar 0,20 persen ke level Rp17.377 per dolar AS. Namun, pergerakan selanjutnya diperkirakan tetap dipengaruhi sentimen global dan dinamika pasar keuangan internasional.
Pengamat menilai, volatilitas nilai tukar masih akan berlanjut seiring ketidakpastian global, sehingga pelaku pasar diminta mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global.
Penulis : Jack
Editor : Jack







